Belajar Dari Kesalahan Chernobyl
Berbicara tentang nuklir, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tidak lepas dari Chernobyl. Kecelakaan nuklir terparah yang terjadi dalam sejarah PLTN komersial 24 tahun yang lalu, tepatnya 26 April 1986 ini meninggalkan berbagai hal yang dapat dipelajari. Bagi para penentang nuklir, kejadian ini merupakan justifikasi untuk menolak PLTN atau aplikasi nuklir dalam bentuk apapun juga. Bagi para ilmuan dan praktisi nuklir, Chernobyl menjadi pelajaran bagi pengembangan generasi PLTN selanjutnya, juga sebagai pengalaman berharga dalam desain PLTN dengan tingkat keamanan dan keselamatan yang tinggi. Tidak dapat dipungkiri energi nuklir masih sangat dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan energi di dunia, karena dayanya yang besar, efisiensi dan efektifitas, serta ramah lingkungan.
Kecelakaan Chernobyl terjadi pada PLTN Chernobyl unit 4 yang terletak di Ukraina (saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet), merupakan kecelakaan nuklir terburuk dan satu-satunya yang termasuk dalam skala 7 menurut Skala Kejadian Nuklir Internasional (International Nuclear Event Scale). Chernobyl terletak sekitar 130 km utara Kiev di Ukraina dan 20 km sebelah selatan perbatasan Belarusia sekarang.
Di lokasi PLTN Chernobyl saat itu terdapat 4 reaktor daya tipe RBMK-1000 (Reaktor Bolshoy Moshchnosty Kanalny) merupakan jenis reaktor air ringan dengan moderator grafit. Pada saat kecelakaan keempat reaktor masing-masing menghasilkan daya listrik 1000 MW dan mensuplai sekitar 10% kebutuhan listrik Ukraina. Pembangunan reaktor dimulai tahun 1970, unit 1 beroperasi tahun 1977, diikuti unit 2 tahun 1978, unit 3 tahun 1981 dan unit 4 1983. Pada saat kecelakaan sedang dibangun unit 5 dan 6 di lokasi tersebut masing-masing juga dengan daya 1000 MW.
Berharap Ramadhan Cepat Berlalu
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. 2:184)
Rutinitas Membunuh
Dunia Kesan
Beberapa hari yang lalu memori saya berlari beberapa tahun ke belakang saat seorang teman men-tagged saya pada sebuah foto yang diuploadnya ke situs jaringan sosial yang sedang booming saat ini (baca facebook red.). Foto itu sendiri diambil akhir tahun 2001, saya lupa tepatnya bulan apa, namun yang saya ingat saat itu saya masih semester 7 di fisika IPB, dan situasinya di sekitar bilangan blok m, kalau tidak salah sepulang manggung di salah satu kafe di daerah itu.Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari foto itu adalah postur fisik tubuh saya yang terlihat sangat kurus, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi sekarang, hal ini bisa dimaklumi mengingat berat badan saya saat ini jika dibandingkan saat kuliah naik sekitar 10-15 kg. Sehingga kesan sederhana yang tertangkap adalah ‘saya tambah gemuk’.
Death – Between Tragedy and Statistic
“ The death of one is a tragedy… The death of millions is just a statistic… “ (Brian Warner)
Lagi-lagi saya mengutip lirik sebuah lagu, kali ini salah satu lagu dari musisi favorit saya Brian Warner a.k.a Marilyn Manson dalam lagunya yang berjudul The Fight Song. Saya tidak ingin membahas lagu tersebut karena bagi saya lagu adalah murni masalah selera, tetapi saya ingin membahas kutipan diatas.
Kutipan diatas belakangan ini terngiang dikepala saya, selain karena lagu itu masuk dalam playlist saya, sehingga selalu saya dengar saat perjalanan pulang pergi ke kantor (bogor – lebak bulus red.) tetapi juga lebih disebabkan oleh siaran berita baik di TV maupun di internet yang menyebutkan walaupun serangan Israel ke Palestina saat saya menulis notes ini memasuki tahap gencatan senjata, namun menurut berbagai sumber resmi korban meninggal sekurang-kurangnya mencapai 1400 jiwa.
Saat Ginjal Tak Mampu Lagi Berbohong
Ginjal berperan penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam membuang sampah metabolisme dan racun dalam darah melalui urine. Tidak berfungsinya ginjal dapat berakibat serius, bahkan dapat berujung pada kematian. Pada umumnya manusia dapat bertahan hidup hanya dengan satu ginjal, namun ketika kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi seseorang harus melakukan hemodialisa (cuci darah), peritoneal dialisis (cuci rongga perut), atau transplantasi ginjal. Di Amerika saja rata-rata sekitar 15.000 orang tiap tahunnya harus melakukan transplantasi ginjal untuk terus bertahan hidup.
Dewasa ini jumlah penderita kerusakan fungsi ginjal meningkat terutama di kota-kota besar, disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, stress, kurang berolahraga, makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan yang lainnya. Selain itu kerusakan fungsi ginjal juga dapat disebabkan karena keturunan. Banyak penderita yang tidak menyadari kelainan fungsi ginjalnya sampai ketika ginjalnya benar-benar rusak, hal ini karena ginjal termasuk organ dalam yang prosesnya tidak kasat mata sehingga membutuhkan alat tertentu untuk mendeteksi fungsinya.
Memanfaatkan aplikasi iptek nuklir terutama teknik perunut radioisotop dan menyadari pentingnya pendeteksian fungsi ginjal, baik untuk diagnosis pasien maupun sekedar pemeriksaan rutin Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) membuat alat pendeteksi fungsi ginjal berbasis teknologi nuklir yang disebut Renograf.
Menjadi Minoritas!!!
“I wanna be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
Cause I wanna be the minority”
(Billy Joe Amstrong)
Kutipan lirik lagu Green Day yang berjudul Minority diatas sudah saya dengar sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu, namun mungkin karena saya tidak terlalu fanatik dengan Green Day (hanya suka beberapa lagu saja, dan kebetulan lagu minority bukan salah satu favorit saya red.) sehingga lirik tersebut berlalu begitu saja dan tidak meninggalkan kesan apa-apa bagi saya.
Melawan Penjara Budaya!!!
Budaya –> Tata Nilai –> Lembaga –> Aturan2 –> Mengikat –> Penjara!!!
Hampir sebagian besar manusia mengalami proses diatas, dan tidak sedikit yang memperlakukan budaya/tata nilai atau bahkan agama menjadi Tuhan!!! Budaya ber-evolusi dengan dahsyat menjadi Tuhan, menjadi sesuatu yang harus ditaati dan tidak bisa dilawan, karena jika memaksakan diri untuk melawan maka akan “kualat”…..
Permasalahannya kemudian adalah dibutuhkan energi yang besar untuk melawan budaya yang melembaga tersebut, dan sebagian besar manusia pasrah dan ikut terjerat dalam penjara budaya yang saat ini hampir kehilangan makna dan substansi nilai-nilai, karena telah tereduksi menjadi sebatas aturan2 dan ritual2 yang menjemukan…..
Inilah seleksi alam, penjara budaya akan memisahkan para pejuang dari orang kebanyakan, penjara budaya akan memisahkan manusia2 cerdas dari manusia pemalas, penjara budaya akan menghasilkan syuhada-syuhada yang menjadi martir dari kekejaman penguasa…..
Dan sejarah telah mencatat, siapa Abraham, Moses, Socrates, Jesus, Siddharta, Muhammad, Galileo, Al Hallaj, Marx, Siti Jenar, hingga Tan Malaka……
Sejarah juga akan mencatat siapa dan dimana posisi kita kemudian, apakah kita sanggup melawan penjara budaya dan menciptakan tatanan baru yang lebih baik, apakah itu di sejarah dunia, sejarah negara, sejarah lingkungan, sejarah keluarga, atau bahkan sejarah kita sendiri…….
Indonesia Goes to Open Sources
Saat ini marak banget yang namanya razia sistem operasi dan software
original (terutama produk microsoft) baik di bandara, stasiun maupun
instansi-instansi. Hal ini disebabkan oleh adanya hak kekayaan
intelektual, yang turunannya adalah lisensi yang dikeluarkan oleh
microsoft.
Ditilik dari segi hukum penggunaan os/software bajakan adalah salah satu
pelanggaran hukum, karena termasuk pencurian hak cipta, di sisi lain
Indonesia dengan kondisi ekonomi yang carut-marut sangat tidak mungkin
bagi para pengguna komputer di Indonesia kebanyakan untuk membeli software
asli. Di kantor-kantor mungkin sudah ada beberapa yg menggunakan os
original, baik yg oem maupun bukan, tetapi siapa yang berani menjamin
bahwa seluruh software yg terinstal di dalamnya adalah original? baik
software yg digunakan untuk bekerja seperti produk adobe, corel, maupun yg
lain, apalagi game? Kalau saya boleh berlebihan maka hampir bisa
dipastikan seluruh game yg terinstal di komputer manusia Indonesia adalah
bajakan (selain game freeware tentu saja)
Apakah ini disebabkan oleh bangsa kita yg tidak menghargai hak cipta atau
karena benar-benar melarat? (saya rasa jawaban yg kedua yg lebih masuk
akal)
Tuhan dan Fisika
Membaca postingan Rika Tiananda (Fisika 38) kehidupan saya seperti diputar kembali ke delapan tahun lalu dimana saya sebagai seorang mahasiswa fisika semester 4 bergelut dengan diri sendiri tentang pertanyaan-pertanyaan besar tentang Tuhan. Sayangnya Rika tidak mencantumkan sumber postingan tersebut sehingga apakah kisah tersebut benar-benar nyata atau cerita-cerita pengkultusan individu hebat yang telah menghasilkan sesuatu bagi peradaban manusia. Jika ditelaah lebih jauh, Fisika adalah anak sulung dari nenek moyang ilmu pengetahuan modern yaitu Filsafat. Basis pengetahuan modern yang berdasarkan empirisme dan logika merupakan cabang tertua dari filsafat. Fisika merupakan derivasi dari filsafat Hellenisme yang mempertanyakan segala sesuatu, dan mencoba menjawab segala sesuatu, alam fisik yang diamati memunculkan teori-teori baru dari para filsuf pada masa itu dari trilogi Socrates-Plato-Aristoteles (saya sebut trilogi karena merupakan rangkaian guru-murid yang terkadang ajarannya lebih merupakan dialektika dari masing-masing personal), dilengkapi dengan nama-nama lain yang tidak kalah besar seperti Demokritus, Archimides, dll yang namanya sering kita temukan di buku pelajaran fisika smu. Read more...




Recent Comments