Siklus Ramadhan kembali datang, bulan yang bagi umat Islam diyakini sebagai bulan penuh rahmah, berkah dan maghfirah ini mengunjungi umat Islam setahun sekali menurut kalender qamariah (kalender bulanan red). Bulan yang istimewa karena didalamnya terdapat kewajiban shaum atau berpuasa sehari penuh selama satu bulan, dengan meningkatkan amalan-amalan lainnya karena pintu pahala sedang dibuka seluas-luasnya dan setan-setan sedang dibelenggu, tetapi benarkah demikian adanya???

Mari kita lihat dari beberapa sisi, dari sisi fiqh shaum di bulan ramadhan adalah sebuah kewajiban yang mutlak dan harus dilaksanakan tanpa terkecuali bagi muslim yang sudah baligh, dengan menahan lapar dan dahaga serta berhubungan seks di siang hari diharapkan mampu untuk menahan serta melakukan manajemen ‘hawa nafsu’ sehingga menjadi pribadi yang fitrah saat usai ramadhan, tetapi lagi-lagi benarkah ramadhan mampu mencapai tujuannya???

Saat ini ramadhan seakan telah hilang semangatnya, pemaknaan bulan suci mengalami penyempitan hanya sebatas ritual yang miskin substansi, alih-alih menahan nafsu, ramadhan hanya jadi semacam ajang penghamburan uang dan peningkatan konsumerisme masyarakat, setelah menahan lapar seharian masyarakat ramai2 mencari makanan yang spesial (tidak biasa dimakan sehari-hari) pada saat buka, restoran2 penuh untuk acara buka bersama, even dirumah2 pun tersedia makanan ‘mewah’ sesuai standar ekonomi masing-masing…… pertanyaannya; dimana esensi yg menyatakan empati bagi kaum dhuafa yg setiap hari kelaparan? dimana nilai-nilai ramadhan, puasa direduksi hanya menjadi lapar dan haus, zakat direduksi hanya menjadi beras 3,5 liter, dan ramai2 berharap surga????

Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh pemaknaan agama hanya sebatas ritual seperti istilah rukun iman atau rukun islam, agama Islam hanya sebatas shalat, puasa, zakat dan haji. Ironisnya shalat hanya gerakan, puasa hanya lapar, zakat hanya setahun sekali dan haji hanya perjalanannya saja, sehingga muncullah badut-badut bersorban pada bulan ramadhan ini, belum lagi sederet artis yang mendadak jadi ‘religius’, termasuk mengeluarkan album religi, padahal sesungguhnya tidak lebih dari ‘tuntutan pasar’. Sehingga orang akan dikatakan beriman jika sudah melakukan hal-hal diatas. Akibatnya tidak ada output yang signifikan pasca ramadhan, semua kembali seperti sediakala, dan kondisi umat semakin terpuruk karena ulahnya sendiri

Idealnya ramadhan tidak hanya dimaknai dari sisi ritualnya saja, tetapi juga dari substansinya, ramadhan adalah perang terhadap konsumerisme, ramadhan adalah paradigma keikhlasan, dimana manusia harus peduli terhadap sesama, apalah artinya memaknai sebuah kesederhanaan apabila nanti berfoya-foya pada saat buka atau lebaran??? ramadhan adalah sebuah latihan bagi manusia untuk lebih menghargai hidupnya, lebih menghargai sesama, lebih banyak merenung, merefleksikan diri atas apa saja yang telah diperbuat, ramadhan adalah pintu, adalah nafas, adalah cinta itu sendiri. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menghadirkan Allah di dalam diri, bukan di luar sana, sehingga tidak akan ada lagi kejadian sandal/sepatu hilang setelah tarawih, apalagi pembunuhan anak bangsa melalui korupsi, yang ada hanya penghormatan terhadap sesama, karena nafasmu adalah nafasNYA…