Membaca postingan Rika Tiananda (Fisika 38) kehidupan saya seperti diputar kembali ke delapan tahun lalu dimana saya sebagai seorang mahasiswa fisika semester 4 bergelut dengan diri sendiri tentang pertanyaan-pertanyaan besar tentang Tuhan. Sayangnya Rika tidak mencantumkan sumber postingan tersebut sehingga apakah kisah tersebut benar-benar nyata atau cerita-cerita pengkultusan individu hebat yang telah menghasilkan sesuatu bagi peradaban manusia. Jika ditelaah lebih jauh, Fisika adalah anak sulung dari nenek moyang ilmu pengetahuan modern yaitu Filsafat. Basis pengetahuan modern yang berdasarkan empirisme dan logika merupakan cabang tertua dari filsafat. Fisika merupakan derivasi dari filsafat Hellenisme yang mempertanyakan segala sesuatu, dan mencoba menjawab segala sesuatu, alam fisik yang diamati memunculkan teori-teori baru dari para filsuf pada masa itu dari trilogi Socrates-Plato-Aristoteles (saya sebut trilogi karena merupakan rangkaian guru-murid yang terkadang ajarannya lebih merupakan dialektika dari masing-masing personal), dilengkapi dengan nama-nama lain yang tidak kalah besar seperti Demokritus, Archimides, dll yang namanya sering kita temukan di buku pelajaran fisika smu. Dahulu belum ada dikotomi atau pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan, karena seorang sarjana dari akademia Plato misalnya bisa jadi seorang fisikawan, matematikawan, ahli hukum, teolog, sosiolog, sekaligus sastrawan. Seiring dengan semakin kompleks dan detailnya pengetahuan maka terjadi klasifikasi bidang-bidang pengetahuan. Namun fisika sebagai anak sulung tentu tidak pernah bisa jauh dari leluhurnya, pertanyaan-pertanyan tentang sifat-sifat fisis dalam level tertentu seringkali bersinggungan dengan pemaknaan akan kehidupan itu sendiri. Seorang fisikawan biasanya akan memiliki paradigma sendiri dalam memandang kehidupan termasuk didalamnya substansi tertinggi kehidupan seperti entitas KeTuhanan. Dalam perjalanan sejarah dapat kita ketahui bahwa seringkali fisikawan adalah person yang sangat religius, pemaknaan keber-agama-an didasari pengetahuan akan fenomena fisis alam, seperti Galileo yang merupakan seorang katolik yang taat (walaupun di cap sesat oleh gereja saat itu), Newton yang tercatat sebagai salah seorang Knight Templar, teologinya tentang Tuhan yang menciptakan mesin semesta yang sangat besar dengan hukum-hukumnya saat ini baik sadar ataupun tidak sadar masih diadopsi oleh aliran mainstream agama-agama besar di dunia. Tulisan-tulisan Blaise Pascal tentang notasi-notasi Bible dan trinitas selama berabad-abad juga berpengaruh besar di gereja. Sampai statement Einstein yang paling terkenal "Tuhan tidak bermain dadu!!" saat menyangkal Werner Heisenberg dkk menunjukkan seberapa dekat para fisikawan dengan kehidupan religius mereka. Berbagai teori baru fisika yang revolusioner seperti teori kuantum dan relativitas sampai singularitasnya Stephen Hawking mengguncang pemaknaan akan semesta dikemudian hari, alamnya Newton belakangan terlihat terlalu "kaku", pergeseran paradigma ini juga berimbas terhadap pemaknaan tentang KeTuhanan. Beberapa fisikawan kemudian memilih untuk menjadi atheis ataupun agnostik, beberapa yang lain memaknai dunia spiritual dengan cara yang berbeda. Sebagian besar fisikawan masih bimbang sehingga memberi porsi berbeda antara kehidupan 'fisikanya' dengan kehidupan 'religius'nya,sehingga cenderung menjadi sekuler. Banyak juga fisikawan yang mencoba memparalelkan pemahaman fisikanya dengan keyakinannya sehingga memperkuat keimanannya. Sayangnya berbagai diskusi yang membahas tentang fisika dan KeTuhanan berhenti sampai pada tahap analogi-analogi (atau memang tak mampu melangkah lebih jauh?) sehingga segalanya seakan-akan berpulang ke masing-masing person (dan itu adalah jawaban yang sangat apologetik). Saya sendiri berada dalam pergulatan pemikiran yang cukup lama tentang hal ini, beberapa diskusi fisika dan teologis semakin menguatkan paradigma saya akan sebuah kebenaran. Tentu saja kebenaran ini adalah kebenaran milik saya pribadi sehingga sangat2 relatif, karena pada dasarnya persepsi manusia tentang Tuhan akan berbeda untuk masing-masing manusia, karena menurut saya Tuhan Yang Maha Segalanya akan memiliki 'wajah-wajah' yang tak terhingga banyaknya yang sesuai dengan pikiran masing-masing manusia. Lagi-lagi saya sebut ini 'kebenaran relatif' karena 'kebenaran mutlak' tidak lain adalah Tuhan itu sendiri. Kajian tentang Grand Unified Theory yang belum selesai, fenomena partikel-partikel sekelas quark yang jenisnya sangat banyak serta masih diperdebatkan apakah pantas disebut partikel karena sifatnya tidak rigid seperti batu bata penyusun bangunan rumah yang saling terpisah, tetapi lebih seperti jaring-jaring penyusun kehdupan yang saling berhubungan menuntun saya kepada pemahaman integral holistik tentang Tuhan, bayang-bayang Tuhan Personal (berada di Langit, mengawasi saya, jauh dan tak terjangkau oleh saya) yang saya yakini dari kecil semakin memudar dan tergantikan oleh Tuhan yang sangat dekat, karena berkuasa atas quark dalam sel-sel tubuh saya, berkuasa atas pergerakan elektron di tubuh saya yang tak pernah bisa diprediksi tepat, sekaligus berkuasa di setiap ruang maupun nir-ruang di semua sudut semesta ini, meliputi materi dan anti materi dan semua yang pernah ada, sehingga kemudian saya mendapati begitu kecilnya diri saya ini, bahkan bisa dianggap tidak ada!!!! tetapi jiwa dan raga yang kecil ini masih bisa 'merdeka' dan 'berkehendak' atas kebaikan Penguasa Absolut tadi, dan Tuhan serta merta menjadi sangat Agung bagi saya (melebihi persepsi akan Maha Agung pada saat SD) Pertentangan antara Deterministik dan Kehendak Bebas menjadi sangat lucu bagi saya, karena bagi saya di setiap jiwa manusia ada 'entitas' keTuhanan yang walaupun sangat kecil dan hampir bisa diabaikan, tetapi akan tetap ada!!! Dengan modal itulah manusia akan berpijak dan menentukan arah hidupnya, menjadi baik atau buruk. Saat ini saya bukan seorang fisikawan ataupun agamawan, karena bagi saya tidak ada perbedaan yang jelas antara ilmu fisika dan ilmu agama (keduanya adalah ilmu Tuhan sekaligus ilmu Manusia) karena dengan hati yang bersih apapun ilmu yang engkau pelajari akan membawamu kepada Sang pemilik Jiwa. Sehingga diskusi Einstein dan Profesornya seperti dalam postingan Rika Tiananda sebenarnya 'hampa makna', pemaknaan ada didalam hati masing-masing pembaca, dan pemahaman saya saat ini berbeda, tidak seperti Professor, tidak juga Einstein, mengapa? sederhana saja, saya bukan Einstein ataupun Professor itu.
September 26, 2008