“I wanna be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
Cause I wanna be the minority”
(Billy Joe Amstrong)

Kutipan lirik lagu Green Day yang berjudul Minority diatas sudah saya dengar sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu, namun mungkin karena saya tidak terlalu fanatik dengan Green Day (hanya suka beberapa lagu saja, dan kebetulan lagu minority bukan salah satu favorit saya red.) sehingga lirik tersebut berlalu begitu saja dan tidak meninggalkan kesan apa-apa bagi saya.

Namun hal itu berubah drastis beberapa hari belakangan ini sejak saya tersadar dalam banyak hal saya termasuk golongan minoritas, dari mulai selera musik, keseharian, hingga paradigma pemikiran bahkan kepercayaan dan keyakinan dalam beragama saya adalah minoritas di tengah-tengah lingkungan kehidupan saya. Walaupun saya dilahirkan dan dibesarkan dari golongan mayoritas (baca orang kebanyakan red.) namun pilihan-pilihan dalam hidup baik berdasarkan rasionalitas maupun selera semata menuntun saya untuk menjadi golongan minoritas. Hal ini bukan hanya dikarenakan ‘ingin tampil beda’ tetapi lebih disebabkan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang menggayut di benak saya saat berhadapan dengan fenomena mayoritas itu sendiri, walalupun dalam beberapa hal saya termasuk golongan mayoritas juga.

Sudah menjadi sifat dasar manusia yang cenderung bertahan di zona nyaman saat menjalani kehidupan, takut akan perubahan, malu jika berbeda dengan yang lain (yang terkadang konsekuensinya akan menjadi bahan gunjingan red.) yang akhirnya menuntun manusia itu sendiri menjadi sangat lembam dan cenderung statis. Hasil akhirnya adalah banyak manusia yang karena takut berbeda atau malas berubah menjadi stuck dan tidak berkembang, hanya mengikuti arus mayoritas serta tidak memiliki jati diri.

Permasalahannya kemudian adalah dalam sejarah manusia seringkali yang menjadi standar ‘kebenaran’ adalah barisan mayoritas. Seringkali sebuah ‘kesalahan’ berubah menjadi ‘kebenaran’ hanya karena sebagian besar orang mengikutinya. Hal ini diperparah jika ‘kebenaran’ itu dipaksakan oleh penguasa dengan segala kekuatan yang dimiliki. Catatan sejarah yang sampai pada kita sekarang ini sebagian besar bukanlah ‘kebenaran’ sebagaimana data dan fakta yang terjadi, tetapi lebih merupakan sebagai catatan peristiwa milik penguasa yang tidak lagi bebas nilai.

Fenomena mayoritas dan minoritas di lapangan seringkali jauh lebih kejam dari yang dibayangkan. Para penguasa dengan dukungan mayoritas kerap kali memandang aneh, mengucilkan, mengkafirkan, bahkan sampai membantai golongan minoritas, apalagi jika sudah dilegitimasi oleh lembaga keagamaan.
Padahal jika kita telaah lebih lanjut ‘berbeda’ adalah fitrah manusia, karena manusia memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya (tidak ada dua ‘manusia’ yang benar-benar sama baik dari segi fisik maupun mental spiritual red.) Pertanyaannya adalah mengapa jika perbedaan itu antara mayoritas dan minoritas seakan-akan mayoritas=benar dan minoritas=salah?

Menjadi minoritas, anti-mainstream atau apapun namanya jelas akan sangat menguras banyak energi karena minimal harus menjelaskan pilihannya kepada masyarakat banyak. Apalagi jika kaitannya dihadapkan pada penguasa/sistem kekuasaan/lembaga agama maka menjadi minoritas seringkali berarti perampasan hak bahkan bukan tidak mungkin berujung pada kematian. Tekanan yang dirasakan saat menjadi minoritas adalah harus menghargai, memahami dan mengerti golongan mayoritas, sementara di sisi lain juga harus siap untuk tidak dihargai, tidak dipahami dan tidak dimengerti oleh golongan mayoritas. Padahal idealnya toleransi harus dilaksanakan oleh berbagai pihak, bahkan seharusnya golongan mayoritas yang harus lebih memahami dan melindungi minoritas.

Sisi positifnya adalah seringkali para penganut minoritas ini menjadi pribadi-pribadi yang tangguh karena memiliki daya tahan yang tinggi, memiliki toleransi yang mendalam dan memiliki pemahaman yang tajam akan kepercayaan dan keyakinannya. Berbeda dengan golongan mayoritas yang egois, tidak toleran dan tidak teruji karena hanya terombang-ambing dan tidak memahami sepenuhnya apa yang dianut. Peradaban-peradaban besar terlahir dari sikap minoritas saat menentang dan melawan kekejaman pemaksaan mayoritas. Bukankah pandangan Muhammad, Jesus, Shiddarta, Konfusius, Lao Tze, Copernicus, Galileo hingga Albert Einstein dan semua tokoh-tokoh besar dunia lainnya adalah minoritas pada jamannya?

Kembali ke lirik lagu Green Day, saya menyeru kepada semua yang merasa minoritas, jangan pernah berhenti mencari kebenaran dan teguh pada pilihan sendiri, jangan menyerah hanya karena berbeda dari yang lain. Dan kepada golongan mayoritas jadilah elegan dengan tidak memaksakan kehendak kepada minoritas, karena merenunglah…. niscaya anda akan mendapati dalam beberapa hal anda juga termasuk minoritas. Semoga……