Ginjal berperan penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam membuang sampah metabolisme dan racun dalam darah melalui urine. Tidak berfungsinya ginjal dapat berakibat serius, bahkan dapat berujung pada kematian. Pada umumnya manusia dapat bertahan hidup hanya dengan satu ginjal, namun ketika kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi seseorang harus melakukan hemodialisa (cuci darah), peritoneal dialisis (cuci rongga perut), atau transplantasi ginjal. Di Amerika saja rata-rata sekitar 15.000 orang tiap tahunnya harus melakukan transplantasi ginjal untuk terus bertahan hidup.
Dewasa ini jumlah penderita kerusakan fungsi ginjal meningkat terutama di kota-kota besar, disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, stress, kurang berolahraga, makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan yang lainnya. Selain itu kerusakan fungsi ginjal juga dapat disebabkan karena keturunan. Banyak penderita yang tidak menyadari kelainan fungsi ginjalnya sampai ketika ginjalnya benar-benar rusak, hal ini karena ginjal termasuk organ dalam yang prosesnya tidak kasat mata sehingga membutuhkan alat tertentu untuk mendeteksi fungsinya.
Memanfaatkan aplikasi iptek nuklir terutama teknik perunut radioisotop dan menyadari pentingnya pendeteksian fungsi ginjal, baik untuk diagnosis pasien maupun sekedar pemeriksaan rutin Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) membuat alat pendeteksi fungsi ginjal berbasis teknologi nuklir yang disebut Renograf.
Teknik renografi yang telah dikenal sejak tahun 1950-an ini memiliki prinsip kerja yang sederhana yaitu menangkap radiasi gamma dari radioisotop dosis rendah yang diinjeksikan ke tubuh pasien menggunakan detektor kolimator berbahan timbal, sehingga mampu dihasilkan kurva renogram yang akurat tentang fungsi ginjal kanan maupun kiri. Salah satu alas an dikembangkannya renograf adalah mahalnya deteksi menggunakan gamma camera jika hanya untuk screening diagnostics awal bagi pasien untuk tindakan medis selanjutnya. Selain itu dosis isotop yang digunakan renograf lebih rendah sehingga relatiF lebih aman. Sebagai perbandingan jika menggunakan radioisotop I-131 Hipuran dosis yang digunakan renograf hanya sebesar 50 μCi, sedangkan gamma camera 300 μCi, sementara jika menggunakan radioisotop Tc-99 DTPA dibutuhkan dosis 150 μCi, bandingkan dengan gamma camera yang mencapai 2000 μCi.
Menurut Joko Sumanto salah seorang peneliti di PRPN BATAN secara umum metoda renograf adalah memonitor kedatangan, sekresi dan ekskresi radiofarmaka sesaat injeksi intravena. Output yang dihasilkan adalah grafik dengan tiga fase. Fase pertama adalah informasi kapasitas respon renovaskuler (penyerapan ginjal red.) yang ditunjukkan oleh kurva menanjak yang tajam dan berlangsung hanya sekitar 30 detik, fase kedua adalah informasi kapasitas uptake, konsentarasi dan sekresi jaringan parenchim ginjal, menunjukkan kinerja ginjal saat memproses sampah metabolisme, kurva menanjak lebih landai dan berlangsung sekitar 5 menit. Fase yang terakhir adalah informasi tentang kapasitas ekskresi atau eliminasi kedua ginjal (proses pengeluaran red.) yang ditunjukkan oleh kurva menurun dimulai dari puncak fase kedua sampai akhir pemeriksaan. Gambaran tadi adalah kurva untuk pasien dengan fungsi ginjal normal, sehingga apabila dihasilkan kurva yang berbeda dapat dengan mudah diketahui pada bagian mana ginjal tidak berfungsi dengan baik, “Sebagai contoh jika terjadi penyumbatan pada ginjal maka aktivitas ekskresi kecil sehingga kurva akan terus menanjak, contoh lain jika ginjal benar-benar tidak berfungsi dan tak mampu meyerap sisa metabolisme maka kurva akan cenderung datar dari awal” demikian Joko menambahkan. Sementara itu dr. Bagaswoto P, Sp.KN Kepala Bidang Radiologi RS dr. Sardjito menyatakan kinerja Renograf lewat kurva renogram yang dihasilkan tidak kalah untuk keakuratan data bila dibandingkan dengan gamma camera.
Setelah diinjeksi dengan radiofarmaka seorang pasien yang akan diperiksa fungsi ginjalnya duduk di kursi pemeriksaan yang telah di desain sedemikian rupa sehingga detektor yang terletak di belakang pasien dapat mendeteksi radiasi gamma yang dipancarkan. Detektor yang diberi tegangan sekitar 1000 Vdc oleh catu daya ini langsung terhubung ke modul elektronik yang akan memproses sinyal-sinyal menggunakan Single Channel Analizer (SCA), setelah itu sinyal diteruskan ke komputer via Universal Serial Bus (USB). Salah satu kelebihan renograf ini adalah sangat fleksibel karena menggunakan software berbasis sistem operasi Windows, software RenoXp untuk Windows Xp dan Reno Vista untuk Windows Vista sehingga renograf dapat dihubungkan ke komputer mana saja selama komputer tersebut menggunakan sistem operasi Windows, tentu saja setelah RenoXp atau Reno vista diinstall terlebih dahulu.
Dengan dosis yang rendah, renograf relatif aman sehingga dapat digunakan tidak hanya untuk penderita kelainan fungsi ginjal tetapi juga untuk diagnosa pasien sehat yang ingin mengetahui kondisi ginjalnya. Renograf juga dapat digunakan untuk monitoring ginjal setelah mendapatkan perawatan. Sampai saat ini renograf telah digunakan di banyak rumah sakit di Indonesia, misalnya RS dr Sardjito Yogyakarta telah menggunakan renograf sejak tahun 2004 untuk uji klinis. Banyak pasien yang mendapat manfaat renograf sehingga pihak RS Bethesda memandang perlu terus mengoperasikannya. BATAN sendiri terus melakukan sosialisasi renograf baik kepada masyarakat maupun dunia kedokteran, varian terakhir renograf yaitu Renograf IR3 telah diuji untuk screening diagnostics 94 orang pada acara Hakteknas dan menyambut Hari Ginjal sedunia di BPPT Jakarta tanggal 9-10 Agustus 2008 lalu. Dengan renograf dapat diketahui kelainan fungsi ginjal pada pasien yang diperiksa sehingga ginjal tidak mampu lagi berbohong. Renograf sendiri memperkaya khasanah kedokteran nuklir yang masih terus berkembang dan memiliki perspektif cerah di masa yang akan datang. (eph)