cfa427748e0f2a60“ The death of one is a tragedy… The death of millions is just a statistic… “ (Brian Warner)

Lagi-lagi saya mengutip lirik sebuah lagu, kali ini salah satu lagu dari musisi favorit saya Brian Warner a.k.a Marilyn Manson dalam lagunya yang berjudul The Fight Song. Saya tidak ingin membahas lagu tersebut karena bagi saya lagu adalah murni masalah selera, tetapi saya ingin membahas kutipan diatas.

Kutipan diatas belakangan ini terngiang dikepala saya, selain karena lagu itu masuk dalam playlist saya, sehingga selalu saya dengar saat perjalanan pulang pergi ke kantor (bogor – lebak bulus red.) tetapi juga lebih disebabkan oleh siaran berita baik di TV maupun di internet yang menyebutkan walaupun serangan Israel ke Palestina saat saya menulis notes ini memasuki tahap gencatan senjata, namun menurut berbagai sumber resmi korban meninggal sekurang-kurangnya mencapai 1400 jiwa.

Saya juga tidak akan membahas konflik yang usianya sudah lebih dari ribuan tahun ini, Jerusalem memang selalu menjadi perebutan tiga agama besar (Yahudi, Kristen dan Islam red.) Tiga agama yang sebenarnya bersaudara karena sama-sama berasal dari Abraham/Ibrahim. Karena pembahasan apalagi dari satu sudut pandang agama yang saya anut, menurut pandangan saya pribadi tidak akan menyelesaikan masalah. Bukan hanya karena saya tidak mempunyai daya untuk menghentikan konflik tersebut, tetapi karena menurut saya hal itu hanya akan melahirkan dendam turun-temurun dan akan melahirkan pembantaian-pembantaian berikutnya.

Saya tertarik untuk membahas kematian itu sendiri, baik kematian seseorang maupun kematian ribuan bahkan jutaan orang. Kematian seseorang, baik melalui cara yang wajar maupun tidak wajar benar-benar merupakan tragedi serta meninggalkan luka dan kenangan mendalam, terutama bagi orang-orang yang dicintai (mohon digaris bawahi kata-kata ‘orang yang dicintai’ red.)

Mari sama-sama berpikir, jangan-jangan rasa sedih itu hanya merupakan pelampiasan ego dimana kita merasa kehilangan dan tidak bisa berinteraksi dengan orang-orang yang kita cintai itu lagi, coba kita bayangkan, pernahkah kita merasa sedih yang berlebihan jika secara tidak sengaja dalam perjalanan kita melihat bendera kuning di pinggir jalan tanda orang meninggal? Paling-paling kita hanya akan menengok sebentar dan mengucapkan sesuatu menurut ajaran agama kita. Jika orang yang meninggal memiliki sedikit hubungan dengan teman atau kerabat kita, paling-paling kita hanya akan menyebut “kasian ya si anu dst”. Lain halnya jika yang meninggal itu orang-orang terdekat kita, rasa sedih itu tidak akan hilang dalam waktu cepat, butuh waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, sekali lagi bukan karena banyaknya kenangan bagi kita tetapi lebih disebabkan ego kita yang tidak memiliki orang itu lagi, bisa teman, sahabat, keluarga bahkan orang tua. Rasa sedih itu akan jauh lebih kuat jika kematian disebabkan melalui cara yang tidak wajar, bisa pembunuhan, kecelakaan, bencana alam atau yang lainnya. Lagi-lagi menurut saya bukan semata karena proses yang tidak wajar, tetapi lebih karena ego kita yang tidak siap menerima ‘kehilangan’ itu secara tiba-tiba atau mendadak. Untuk menguatkan kalo itu benar-benar ego dan bukan proses, coba kita lihat berita-berita kriminal ataupun kecelakaan di TV, paling-paling kita berkomentar “kok ada ya orang yang tega begitu” atau “manusia sekarang makin gila”, bayangkan jika itu menimpa orang-orang terdekat kita? mungkinkah kita hanya berkata demikian?

Uraian diatas bagi saya menegaskan bahwa kematian seseorang adalah tragedi, terutama bagi orang-orang terdekat yang mencintainya. Sekarang bagaimana dengan kematian massal?? Masihkah itu menjadi sebuah tragedi?? Mungkin iya, terutama apabila prosesnya adalah pembantaian, perang dsb. Tetapi mari kita runut, bukankah itu juga ‘ego’ kita?? apakah respon masyarakat Indonesia (yang notabene muslim red.) sama ketika terjadi penembakan ribuan bikhu yang sedang mendemo rezim di Myanmar? (tidak ada yang tau jumlah pasti bikhu yang meninggal karena jalur informasi ditutup rapat oleh rezim tsb red.).

Kembali ke agresi Israel ke Palestina, respon umat Islam bagi saya masih terkungkung ‘ego’ itu sendiri, ‘ego’ karena merasa bersaudara dsb. Pernahkah umat Islam merasakan hal sama terhadap pembantaian jutaan Yahudi oleh Hitler dalam “holocaust” pada awal PD II? Atau pernahkah kita merasa sedih di awal tahun 90-an ketika lebih dari sejuta orang suku tutsi dibantai oleh suku hutu di Rwanda hanya dalam waktu satu minggu!!! (ada yang menyebutkan ini adalah pembantaian tercepat dalam sejarah manusia).

Saya bukan seorang ahli sejarah, politik apalagi ahli agama, tetapi menurut saya saat merespon kematian orang dalam jumlah banyak kita harus melihat itu sebagai sebuah tragedi kemanusiaan juga, bagi saya tidak adil jika kita melihat Palestina sebagai sebuah tragedi, tetapi kita melihat pembantaian ratusan ribu orang simpatisan PKI oleh orde baru, ratusan ribu rakyat Tibet yang dibantai tentara RRC kita memandangnya sebelah mata, alias kita melihat peristiwa itu hanya sebagai deretan angka-angka atau statistik!!!! Bukankah kita selama ini tidak pernah ambil peduli akan hal itu? Apakah hanya karena berbeda keyakinan?? Mereka toh juga manusia, dan memiliki orang-orang yang dicintai!!! Karena kalau kita melihat pembantaian itu (selain palestina red.) hanya sebagai statistik apa bedanya kita dengan pemerintah AS dan PBB yang menerapkan standar ganda, melihat penyerbuan Kuwait oleh Irak dengan tergesa tetapi mengamini penyerbuan Israel.

Untuk lebih membantu pemahaman kita terhadap perang, terutama di Jerusalem dan sekitarnya, ada baiknya kita melihat film Kingdom of Heaven, bagi saya meskipun itu film Holywood tetapi film itu cukup baik menggambarkan bahwa dalam sejarah manusia seringkali kita tertipu, seringkali agama dijadikan propaganda dan alat bagi kekuasaan, dan membungkus perang ‘kepentingan’ yang kotor menjadi perang ‘agama’ yang suci.

Saya tidak pernah mendukung apalagi membenarkan tindakan Israel, bagi HAMAS teruslah melawan!!! Dan bagi teman-teman di Indonesia percuma saja kita mengutuk tetapi tidak melakukan apa-apa, apa bedanya kita sama PBB yang hanya bisa mengutuk?? Tetapi bagi saya ini bukanlah perang ‘agama’ Islam melawan Yahudi atau sebaliknya, ini adalah perang antara kaum marjinal yang tertindas melawan penguasa zalim yang selalu terjadi dalam sejarah umat manusia. Perang antara kaum proletar melawan jerat kapitalisme, sebagaimana perang antara Muhammad dan sahabat-sahabat miskin melawan konglemerat Quraisy, perang antara para mahasiswa angkatan 98 melawan rezim orde baru, perang antara Tjut Nyak Dien melawan kolonial Belanda, perang antara pejuang IRA di Irlandia melawan kerajaan Inggris dan selaksa perlawanan terhadap kesewenangan lainnya. Ini adalah perang ideologi dimana egalitarianisme manusia melawan perbudakan modern.

Sayangnya sebagian besar kita tidak sadar saat ini telah menjadi alat dan boneka mainan sebuah sistem, kita hanya bersedih kalau yang meninggal itu kerabat kita, kita hanya membantu kalau yang dibantai itu adalah orang yang seagama, kita menjelma menjadi bukan ‘manusia’ tetapi seonggok daging yang terkungkung ego. Ironisnya, perang akan selalu ada karena dunia ini butuh keseimbangan, tidak akan ada damai tanpa perang, dan mari jujur terhadap diri sendiri, bukankah ‘kematian’ adalah hal yang wajar? Masihkah kita takut menghadapinya? Terlepas dari tragedi atau hanya sekedar statistik, kita masih butuh tempat berpijak, dan pada kebenaran lah seharusnya kita berpegang teguh, bukan kepada ego. Pertanyaan terakhir, masih bisakah kita membedakan ‘kebenaran’ dan ‘ego’? Dan apakah kita termasuk dalam kritik Marilyn Manson diatas?(eph)