Beberapa hari yang lalu memori saya berlari beberapa tahun ke belakang saat seorang teman men-tagged saya pada sebuah foto yang diuploadnya ke situs jaringan sosial yang sedang booming saat ini (baca facebook red.). Foto itu sendiri diambil akhir tahun 2001, saya lupa tepatnya bulan apa, namun yang saya ingat saat itu saya masih semester 7 di fisika IPB, dan situasinya di sekitar bilangan blok m, kalau tidak salah sepulang manggung di salah satu kafe di daerah itu.Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari foto itu adalah postur fisik tubuh saya yang terlihat sangat kurus, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi sekarang, hal ini bisa dimaklumi mengingat berat badan saya saat ini jika dibandingkan saat kuliah naik sekitar 10-15 kg. Sehingga kesan sederhana yang tertangkap adalah ‘saya tambah gemuk’.
Namun apakah memang sesederhana itu? Apakah memang saya ‘hanya’ bertambah gemuk? Jika ditilik secara ‘berat badan’ memang iya (istilah ‘berat’ badan yang dimaksud adalah ‘massa’ dalam ilmu fisika red.), tetapi jika dilihat dari fenomena mikroskopis tidaklah sesederhana itu. Dalam satu hari saja milyaran sel tubuh kita mati dari total sekitar puluhan sampai ratusan trilyun jumlah sel total dalam tubuh kita. Milyaran sel itu kemudian akan digantikan oleh sel-sel yang baru untuk menjaga keseimbangan tubuh kita. Sel-sel yang mati sebagian besar akan dikeluarkan dari tubuh kita melalui kulit maupun saluran pembuangan lainnya. Hebatnya proses ‘kematian’ milyaran sel dan penggantiannya itu lagi-lagi terjadi hanya dalam waktu ‘satu hari’!!!!
Sehingga dapat disimpulkan ‘tubuh’ saya yang ada di foto itu bukanlah ‘tubuh’ saya yang sekarang. Karena sel-sel penyusun tubuh saya saat ini pasti sudah jauh berbeda dengan sel-sel penyusun tubuh saya saat itu (kalau tidak bisa dikatakan berbeda ‘semuanya’ mengingat berapa hari dalam delapan tahun yang terlewat). Bisa saya pastikan tubuh saya saat SMA dan tubuh saya sekarang adalah dua benda fisik yang berbeda. Dan pastinya hal itu terjadi bukan hanya pada saya tetapi juga pada kita semua. Perubahan ini tidak hanya terjadi pada orang-orang yang ‘bertambah gemuk’ saja, tetapi juga pada manusia yang berat badannya cenderung stabil, sehingga dapat dikatakan setiap manusia ‘memakai’ tubuh barunya setiap hari.
Mengapa kita seolah-olah tidak merasakan proses diatas? Pertanyaan barusan dapat dijelaskan dengan definisi ‘merasakan’ itu sendiri. Kita ‘merasakan’ dunia fisik hanya dengan indera yang kita punya. Indera fisik yang kita kenal adalah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah untuk merasa dan kulit untuk meraba. Dalam pembahasan dunia diluar fisik atau metafisik banyak orang menyebut indera keenam atau ‘sixth sense’. Seluruh fenomena fisik yang kita amati masuk melalui jalur-jalur indera tersebut. Proses-proses yang terjadi diluar jangkauan indera kita tidak akan dapat dirasakan.
Permasalahannya kemudian adalah jangankan proses ‘diluar’ indera seperti contohnya kematian sel diatas, ternyata proses yang ‘terjangkau’ oleh indera sendiri, kesan yang ditangkap tidak ‘begitu adanya’ atau tidak demikian ‘sebenarnya’. Mengapa demikian?
Proses indera yang terjadi secara umum sama, baik penglihatan, pendengaran dll. Sel-sel indera terluar mengindera ‘kejadian’ atau ‘sesuatu’ kemudian meneruskan informasi melalui sel-sel syaraf untuk disampaikan ke sel-sel neuron dalam otak kita (yang disebut sel-sel kelabu oleh Hercule Poirot dalam novel-novel Agatha Christie red.) untuk diproses dan menyampaikan kembali informasi berbentuk respon balik. Karena kemampuan indera manusia yang terbatas maka kesan yang dihasilkan tidaklah ‘sebagaimana adanya’ tetapi ‘sebagai mana yang tertangkap’ oleh otak kita. Sebagai contoh mata kita hanya mampu menangkap cahaya tampak dari rentang panjang gelombang merah sampai ungu, diluar itu kita tidak sanggup melihatnya. Bandingkan dengan hewan yang memiliki jangkauan panjang gelombang berbeda seperti tikus, kucing, atau hewan malam lainnya. Mereka mampu menangkap spektrum diluar cahaya tampak sehingga ‘warna-warna’ mereka berbeda dengan ‘warna-warna’ kita. Demikian juga proses pendengaran, rentang frekuensi bunyi yang mampu kita tangkap hanya sekitar 20-20.000Hz bandingkan dengan kelelawar yang mampu menangkap bunyi dengan rentang dibawah yang kita punya sehingga tentu saja ‘bebunyian’ kelelawar atau hewan lainnya berbeda dengan ‘bebunyian’ kita. Hal yang sama juga terjadi pada indera lainnya, itulah mengapa anjing tipe tertentu lebih berbakat menjadi pelacak dibanding manusia karena inderanya yang tajam.
Selain keterbatasan detektor indera yang kita punya, ternyata kita sendiri tidak pernah ‘benar-benar’ bersentuhan dengan dunia ‘diluar’ kita. Mengapa begitu? Ketika kita merasa melihat sesuatu, sebenarnya itu adalah proses informasi yang ada di otak kita, saat kita merasa mendengar sesuatu, itu juga hanya proses informasi di otak saja, karena otak hanya memproses informasi yang disampaikan oleh sel-sel saraf, Lagi-lagi kita tidak pernah ‘benar-benar’ bersentuhan dengan dunia luar!!! Semua yang kita alami hanyalah ‘kesan’ atau ‘image’ yang terbentuk di otak kita. Kita tidak pernah menyentuh sesuatu, kita hanya merasa menyentuh lewat kesan yang ditangkap di otak, kita tidak pernah melihat sesuatu, kita hanya merasa melihat sesuatu lewat kesan yang ditangkap di otak. Dunia kesan manusia pasti sangat berbeda dengan dunia kesan hewan atau makhluk hidup lainnya. Bayangkan seseorang yg tidak memiliki indera penglihatan (buta red.) maka dunia yang dialami pasti berbeda dengan dunia kita. Sekarang bayangkan manusia masih hidup namun kehilangan semua indera nya, maka dunia manusia itu pasti akan sangat berbeda. Atau bayangkan seseorang bayi yang dari lahir kemudian otaknya diberi informasi artifisial (buatan red.) sejak lahir, maka sampai dewasa ia akan meyakini itulah ‘dunia’ yang sebenarnya. Untuk memudahkan pemahaman, ilustrasi di film Matrix dan The Truman Show barangkali dapat membantu.
Kenyataan yang terjadi adalah kita seringkali memaknai ‘kesan’ yang ditangkap indera itu sebagai sesuatu yang ‘sebenarnya’ terjadi. Manusia merasa memiliki ‘kebenaran’, padahal ‘kesan’ yang sampai pada kita hanya sanggup ‘mendekati kebenaran’ bahkan seringkali menipu. Contoh paling sederhana kesan menipu adalah, saat naik mobil di tol, kesan yg tertangkap adalah pepohonan diluar berlari ke arah belakang, padahal sesugguhnya tidak demikian (ini pelajaran SD red.) contoh lain adalah ‘kesan’ bahwa bumi diam padahal sesungguhnya tidak demikian. (kalau mau jujur kita hanya mendapat kesan bumi bergerak saat gempa bumi bukan?)
Kita kebanyakan tertipu oleh kesan-kesan yang terjadi, karena memang kita tidak pernah mengetahui apa yang terjadi ‘sesungguhnya’. Kita tidak pernah mengetahui ‘kebenaran’ yang terjadi sesungguhnya karena semua hanyalah kesan. Kesombongan manusia dalam sejarah contohnya adalah pembunuhan Galileo karena meyakini teori Nicolas Copernicus bahwa Bumi mengelilingi Matahari, sehingga dianggap sesat karena bertentangan dengan kesan sehar-hari matahari yang mengitari bumi. Coba kita bandingkan dengan pengetahuan sekarang? Bukankah alasan pembunuhan Galileo itu lucu sekaligus menyedihkan? Saat ini ilmuan fisika modern memahami bahwa gerakan partikel mikroskopis tidak memiliki sebab, dan hanya bergantung pada probabilitas, lagi-lagi itu mengguncang dunia yang ‘terlena’ oleh ‘kesan’ yang ditangkap manusia sehari-hari, bahwa segala sesuatu pasti mempunyai sebab. Waktu yang bersifat relatif juga bertentangan dengan ‘kesan’ kita bahwa jalannya waktu itu tetap untuk segala sesuatu.
Kita juga seringkali terjebak pada kesombongan bahwa kita memiliki pengetahuan tentang ‘sesuatu’ padahal otak kita seperti katak dalam tempurung yang hanya mengandalkan kerja sel-sel syaraf. Termasuk pengetahuan ini yang saya uraikan ini hanyalah kumpulan kesan. Banyak juga dari kita (termasuk saya red.) yang menderita karena takut akan kesan yang ditimbulkan, seperti takut terlihat bodoh, miskin, jelek dsb sehingga melupakan substansi sebenarnya dari kehidupan itu sendiri. Bagi saya kesadaran bahwa kita tidak mengetahui apa-apa, atau kesadaran bahwa dunia ini hanyalah kumpulan ’kesan’ yang sangat mungkin jauh berbeda dari yang ‘sebenarnya’ bisa menuntun kita pada kehidupan yang lebih arif dan bersahaja, kaya-miskin, bodoh-pintar, bukankah semua hanya kesan, tentu saja semua relatif, dan ternyata kita hanya bisa berpijak pada diri sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah apalagi yang bisa kita sombongkan?? Bahkan tubuh kita pun hanya sebuah ‘kesan’!!!!
“Cause it’s a great big white world
And we are drained of our colours
We used to love ourselves
We used to love one another”
(Brian Warner)