Terkait dengan rutinitas, saya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman saya pagi ini (04/02/09), hujan deras yang mengguyur bogor minggu2 belakangan ini menambah rutinitas baru yaitu memakai jas hujan saat mengendarai sepeda motor (perjalanan ke kantor pulang pergi bogor-lebak bulus sendiri sudah merupakan rutinitas yang menjemukan red.) setelah sebelumnya mengganti playlist lagu-lagu The Vines yang sudah bertahan dua minggu dengan RATM (berharap mendapat semangat baru red.) saya berangkat dengan bersungut2 karena hujan turun tidak terlalu deras, kemalasan saya menggunakan jas hujan membuat saya menantang alam dan berkendara tanpa pelindung air hujan, perlahan-lahan jaket, celana jeans dan sepatu kets saya basah (terberkatilah BATAN yang masih mengijinkan pegawainya memakai jeans dan sepatu kets ke kantor red.) sampai di bilangan Kemang Bogor, hujan semakin deras dan saya memutuskan menyerah dan menggunakan jas hujan, namun kejenuhan saya terhadap rutinitas membuat saya melepaskan sepatu kets dan menaruhnya di bagasi motor, sehingga saya bertelanjang kaki praktis dari Kemang Bogor sampai Lebak Bulus, terpaan air di kaki saya, percikan dari kendaraan lain maupun saat melewati genangan2 air, ditambah derungan lagu-lagu RATM membuat sensasi tersendiri bagi saya, dingin yang menusuk melewati kaki terasa membuat perjalanan lebih menantang dan berbeda dari biasanya, sepanjang jalan saya memperhatikan tidak ada yang naik sepeda motor dengan bertelanjang kaki. Dan saya berhasil mengusir kejenuhan akibat rutinitas perjalanan saya pagi ini.
Berbicara lebih jauh tentang definisi rutinitas, Rutinitas sendiri dapat dirumuskan sebagai perbuatan, kegiatan, aktivitas, keadaan atau apapun yang berulang dalam skala waktu yang cenderung tetap. Selain contoh rutinitas perjalanan saya diatas, contoh sederhana lainnya adalah saat kita sekolah kita selalu mengulang masuk pagi pukul 7.00 dan pulang 12.00 setiap harinya, itu terjadi secara berulang terus menerus, walaupun secara sepintas kegiatan yang kita lakukan setiap hari berbeda-beda, tetapi substansi dasarnya adalah sama. Tentu saja contoh-contoh diatas hanya sekedar ilustrasi, ada yang masuk atau pulang lebih awal atau terlambat.
Sepintas lalu rutinitas membawa sisi positif dalam hidup kita karena membawa keteraturan sehingga kita dengan mudah menyusun agenda-agenda baik jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek. Karakter manusia yang berbeda menyebabkan respon manusia yang berbeda menyikapi rutinitas ini. Sebagian orang ada yang menyukai rutinitas, sebagian lain tidak pernah bisa berdamai dengan kata ini. Saya sendiri melihat perbedaan ini hanya disebabkan daya tahan kita yang berbeda menghadapi rutinitas.
Sifat dasar manusia yang dinamis dan menyukai hal-hal baru menggiring manusia kepada titik jenuh saat menghadapi rutinitas, terkait dengan hipotesa daya tahan menghadapi rutinitas tadi, sebagian dari kita titik jenuh itu cepat hadir, sedang yang lainnya hadir lebih lama, sialnya apabila tidak ada tindak lanjut saat menghadapi titik jenuh itu, maka titik jenuh itu akan datang kembali dengan frekuensi yang semakin sering dan periode yang singkat. Saat kita tidak mampu melawan rutinitas itu maka kejenuhan-kejenuhan itu akan datang semakin menggila, menghambat kreatifitas, bahkan sanggup mengguncang psikologis kita yang mengalaminya. Terutama bagi kita yang memiliki daya tahan rendah terhadap rutinitas, rasa tersiksa itu dapat membunuh kemanusiaan kita secara perlahan.
Secara teoritis salah satu cara melawan rutinitas-rutinitas adalah dengan melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan (saya sendiri bingung bersepeda motor dengan kaki telanjang apakah masuk kategori kegiatan melawan rutinitas yang baik red.), memaknai rutinitas yang kita jalani dengan paradigma yang berbeda, atau melakukan aktivitas yang kita sukai, tentu saja kegiatan yang kita sukai pun apabila dilakukan berulang kali dengan cara yang sama juga dapat membuat kita muak. Diperlukan juga sebuah kemampuan memanajemen diri menghadapi rutinitas, menciptakan varian-varian aktivitas baru dalam hidup. Tanpa itu sepertinya kita akan menjelma menjadi robot yang sudah memiliki to do list yang sama setiap harinya, dan tidak pernah selesai.
Ironisnya adalah terkadang kita tidak mampu melawan rutinitas karena kita terikat dengan kebutuhan-kebutuhan atau kepentingan, namun menurut hemat saya selalu ada cara untuk melawan kejenuhan-kejenuhan akibat rutinitas itu, tentu saja dengan aktivitas yang sesuai dengan karakter kita masing-masing, sehingga idealnya adalah bukan kita yang terbunuh oleh rutinitas, tetapi kita yang membunuh kejenuhan dan memaknai ulang arus kehidupan kita.
Kembali ke pengalaman saya pagi ini, setelah menemukan semangat baru dan menikmati sensasi rasa dingin di kaki, juga rasa kasar saat menyentuh aspal yang basah, saya dikagetkan oleh motor yang menabrak saya dari belakang dengan cukup kencang di daerah Sawangan Parung, (mungkin disebabkan jalan yang licin karena diguyur hujan red.) saya sempat kehilangan keseimbangan namun berhasil menguasai motor dan tidak jatuh, sebaliknya motor dan pengendara yang menabrak saya jatuh mencium aspal dengan koefisien gesek yang lebih kecil karena licinnya jalan. Sayapun meminggirkan kendaraan saya dan membantu orang itu bangun serta meminggirkan motornya pula, sepertinya kaki dan tangan orang itu sedikit lecet-lecet demikian juga motornya, namun setelah saling bermaafan dan merasa tidak ada cedera yang cukup serius kami sama-sama melanjutkan perjalanan. Saya memaknai kejadian itu dengan rasa lega, bukan karena saya tidak jatuh dan tidak membayar ganti rugi, tetapi lebih karena saya berhasil keluar dari rutinitas pagi ini, saya kembali menikmati perjalanan sampai hanya sekitar beberapa ratus meter sebelum kantor saya melihat ada pengendara lain yang berboncengan (laki-laki perempuan red.) yang juga bertelanjang kaki, saya agak kecewa karena pagi ini bukan satu-satunya, saya melangkah masuk ke gedung tempat saya bekerja dengan celana jeans tergulung serta menenteng sepatu kets serta sapaan ramah seorang teman “woi orang gunung, tumben baru datang lo!!”, sambil terngiang lirik lagu RATM “Why stand on the silent platform, fight the world, fuck the norm!!” dan kemudian kembali ke rutinitas.
