<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Paradigma Keikhlasan</title>
	<atom:link href="http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com</link>
	<description>Keikhlasan adalah pintu utama menuju Keselamatan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Aug 2009 07:36:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='paradigmakeikhlasan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/7c1c816d524571873ad64d99f2425aa5?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Paradigma Keikhlasan</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Berharap Ramadhan Cepat Berlalu</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/08/20/berharap-ramadhan-cepat-berlalu-2/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/08/20/berharap-ramadhan-cepat-berlalu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 02:53:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[konsumerisme]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[sale]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/08/20/berharap-ramadhan-cepat-berlalu-2/</guid>
		<description><![CDATA[Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=58&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><img class="alignright size-full wp-image-80" title="sale" src="http://paradigmakeikhlasan.files.wordpress.com/2009/08/sale.jpg?w=300&#038;h=300" alt="sale" width="300" height="300" />Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa</em>. (QS. 2:183)</p>
<p><em>(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui</em>. (QS. 2:184)</p>
<p><em><span id="more-58"></span>(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur</em>. (QS. 2:185)</p>
<p>Bagi umat islam kutipan ayat suci diatas pasti sudah tidak asing lagi. Setiap tahunnya 3 ayat diatas, terutama ayat pertama akan sering berkumandang saat bulan ramadhan. Bulan yang diyakini sebagai bulan paling utama dan penuh rahmah serta maghfirah dibanding bulan-bulan yang lain.</p>
<p>Kalau kita membaca ayat dari kitab suci diatas ada beberapa kesimpulan yang dapat kita petik</p>
<p>1. Berpuasa itu wajib hukumnya bagi orang beriman (QS. 2:183)</p>
<p>2. Ada kemudahan bagi yang sakit atau dalam perjalanan untuk mengganti di hari lain (QS. 2:184-185)</p>
<p>3. Bagi yang tidak kuat diganti dengan memberi makan fakir miskin (QS. 2:184)</p>
<p>4. Allah memberi kemudahan dalam berpuasa dan tidak menghendaki kesukaran (QS. 2:185)</p>
<p>5. Tujuan berpuasa adalah supaya bertaqwa dan bersyukur (QS. 2:183 dan 185)</p>
<p>6. Berbuat kebajikan dengan kerelaan hati dan berpuasa lebih baik jika kita mengetahui (QS. 2:184)</p>
<p>Mari kita cermati lebih jauh&#8230;..</p>
<p>point 1-3 adalah aturan hukum (fiqih) berpuasa, menjelaskan bagaimana tata cara berpuasa, point 4 menjelaskan bahwa ada kemudahan-kemudahan dalam kewajiban berpuasa sehingga ini merupakan penegasan bahwa puasa bukanlah ibadah yang menyulitkan.</p>
<p>point 5 dan 6 lebih menjelaskan kepada substansi puasa itu sendiri. bahwa tujuan berpuasa adalah menjadikan manusia untuk lebih bertaqwa dan bersyukur, dan berpuasa harus dibarengi dengan berbuat kebajikan dengan kerelaan hati (ikhlas).</p>
<p>permasalahannya kemudian adalah:</p>
<p>sudah berapa usia kita sekarang?</p>
<p>sudah berapa kali kita berpuasa?</p>
<p>apakah sekarang kita sudah menjadi orang yang bersyukur?</p>
<p>tentu saja jawaban dari pertanyaan diatas akan sangat beragam dan dapat diperdebatkan, karena definisi bersyukur bagi satu orang dan yang lainnya akan sangat berbeda</p>
<p>banyak yang menyatakan bahwa berpuasa adalah melatih diri untuk merasakan penderitaan fakir miskin, mengajari rasa syukur, mengendalikan hawa nafsu, dan memperbanyak amal baik.</p>
<p>benarkah demikian???</p>
<p>mari kita amati kenyataan-kenyataan yang terjadi di dalam bulan ramadhan dewasa ini&#8230;&#8230;</p>
<p>1. masyarakat muslim euphoria menyambut ramadhan dengan kegembiraan semu</p>
<p>2. pusat-pusat perbelanjaan semakin meriah, iklan di media cetak, elektronik semakin marak</p>
<p>3. orang-orang berlomba untuk berbelanja, mulai dari kebutuhan makanan yang enak-enak untuk berbuka, mengadakan acara buka puasa bersama di tempat-tempat mewah</p>
<p>4. menghambur-hamburkan uang untuk menyambut hari raya, mulai dari membeli baju baru, kue yang berlimpah ruah, hingga memesan tiket bus, kereta api, pesawat untuk mudik</p>
<p>5. semua artis tiba-tiba berubah religius</p>
<p>6. PENGELUARAN KITA MEMBENGKAK SELAMA RAMADHAN</p>
<p>7. dst (silahkan lanjutkan sendiri red.)</p>
<p>yang terjadi setelah ramadhan:</p>
<p>1. semua kembali seperti sedia kala</p>
<p>2. yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya</p>
<p>3. manusia tak pernah bersyukur</p>
<p>mengapa demikian? analisa saya adalah karena umat islam berpuasa TIDAK MENGKAJI AYAT QURAN TENTANG PUASA, kita berpuasa hanya memenuhi kewajiban, menahan lapar dan haus tanpa memperhatikan tujuan yang terdapat di akhir ayat, kita tidak pernah bersyukur, kita tidak pernah merasakan penderitaan kaum fakir miskin, kaum marjinal, karena selalu berbuka dengan makanan yang enak2 (balas dendam red.), kita semakin boros saat puasa&#8230;. kita menjadi budak KAPITALISME dan KONSUMERISME&#8230;..</p>
<p>Ramadhan telah berubah dari bulan suci penuh rahmah menjadi bulan KONSUMERISME yang sangat MENGERIKAN!!!! Ramadhan berubah menjadi sekedar TREND!!!!</p>
<p>Kita telah menjadi budak-budak setan kapitalisme yang berkedok ramadhan, kita dirayu untuk terus berbelanja, untuk terus menghamburkan uang dengan topeng ramadhan, kita ditipu oleh acara-acara TV yang seolah-olah religius padahal membuai dan membodohi kita semua, kita ditipu oleh industri music, RBT dan hiburan dengan kedok ramadhan.</p>
<p>Tetapi benarkah kita ditipu??? Jangan-jangan kita memang ikhlas dan sukarela melakukannya??? Bukannya ikhlas dengan kerelaan hati berbuat kebajikan seperti pada ayat suci diatas (QS. 2:184) Tetapi kita ikhlas dan rela hati untuk memanjakan hawa nafsu&#8230; bahkan MENUHANKAN HAWA NAFSU!!! dari nafsu berbelanja, nafsu makan enak, nafsu jalan-jalan dan nafsu lainnya&#8230;</p>
<p>Ramadhan bukan lagi bulannya para fakir miskin, tetapi RAMADHAN adalah BULANNYA PARA PENGUSAHA, BULANNYA SETAN-SETAN KAPITALISME&#8230;.</p>
<p>dan sampai saat ini umat islam tak pernah sadar karena memang tidak ingin sadar&#8230;.</p>
<p>Kalau begini ceritanya, saya berharap ramadhan cepat berlalu&#8230;</p>
<p>(nb. masih banyak yang bisa dibahas dari kutipan ayat diatas)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=58&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/08/20/berharap-ramadhan-cepat-berlalu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://paradigmakeikhlasan.files.wordpress.com/2009/08/sale.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sale</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rutinitas Membunuh</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/02/04/rutinitas-membunuh/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/02/04/rutinitas-membunuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 03:56:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[



Membaca judul note diatas, jika diijinkan berapriori maka saya akan menduga teman-teman yang membaca akan langsung teringat pada kehidupan masing-masing. Sudah menjadi fitrah bahwa sebagian besar dari kita menjalani kehidupan ini dengan kesibukan berbagai rutinitas-rutinitas, sejak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan, perguruan tinggi hingga ke dunia kerja. Tidak ada manusia yang tidak pernah terjerat dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=51&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix">
<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30315057&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=20793619989&amp;aid=-1&amp;oid=20793619989&amp;id=1316979280"><img class="alignright" src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v2216/117/54/1316979280/a1316979280_30315057_1033.jpg" alt="" width="180" height="180" /></a></div>
</div>
<div class="clear_left">Membaca judul note diatas, jika diijinkan berapriori maka saya akan menduga teman-teman yang membaca akan langsung teringat pada kehidupan masing-masing. Sudah menjadi fitrah bahwa sebagian besar dari kita menjalani kehidupan ini dengan kesibukan berbagai rutinitas-rutinitas, sejak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan, perguruan tinggi hingga ke dunia kerja. Tidak ada manusia yang tidak pernah terjerat dalam rutinitas-rutinitas dalam hidupnya, karena siklus siang dan malam yang kita lewati pada dasarnya dapat dipandang sebagai sebuah rutinitas.</div>
<div class="clear_left">
<p><span id="more-51"></span>Terkait dengan rutinitas, saya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman saya pagi ini (04/02/09), hujan deras yang mengguyur bogor minggu2 belakangan ini menambah rutinitas baru yaitu memakai jas hujan saat mengendarai sepeda motor (perjalanan ke kantor pulang pergi bogor-lebak bulus sendiri sudah merupakan rutinitas yang menjemukan red.) setelah sebelumnya mengganti playlist lagu-lagu The Vines yang sudah bertahan dua minggu dengan RATM (berharap mendapat semangat baru red.) saya berangkat dengan bersungut2 karena hujan turun tidak terlalu deras, kemalasan saya menggunakan jas hujan membuat saya menantang alam dan berkendara tanpa pelindung air hujan, perlahan-lahan jaket, celana jeans dan sepatu kets saya basah (terberkatilah BATAN yang masih mengijinkan pegawainya memakai jeans dan sepatu kets ke kantor red.) sampai di bilangan Kemang Bogor, hujan semakin deras dan saya memutuskan menyerah dan menggunakan jas hujan, namun kejenuhan saya terhadap rutinitas membuat saya melepaskan sepatu kets dan menaruhnya di bagasi motor, sehingga saya bertelanjang kaki praktis dari Kemang Bogor sampai Lebak Bulus, terpaan air di kaki saya, percikan dari kendaraan lain maupun saat melewati genangan2 air, ditambah derungan lagu-lagu RATM membuat sensasi tersendiri bagi saya, dingin yang menusuk melewati kaki terasa membuat perjalanan lebih menantang dan berbeda dari biasanya, sepanjang jalan saya memperhatikan tidak ada yang naik sepeda motor dengan bertelanjang kaki. Dan saya berhasil mengusir kejenuhan akibat rutinitas perjalanan saya pagi ini.</p>
<p>Berbicara lebih jauh tentang definisi rutinitas, Rutinitas sendiri dapat dirumuskan sebagai perbuatan, kegiatan, aktivitas, keadaan atau apapun yang berulang dalam skala waktu yang cenderung tetap. Selain contoh rutinitas perjalanan saya diatas, contoh sederhana lainnya adalah saat kita sekolah kita selalu mengulang masuk pagi pukul 7.00 dan pulang 12.00 setiap harinya, itu terjadi secara berulang terus menerus, walaupun secara sepintas kegiatan yang kita lakukan setiap hari berbeda-beda, tetapi substansi dasarnya adalah sama. Tentu saja contoh-contoh diatas hanya sekedar ilustrasi, ada yang masuk atau pulang lebih awal atau terlambat.</p>
<p>Sepintas lalu rutinitas membawa sisi positif dalam hidup kita karena membawa keteraturan sehingga kita dengan mudah menyusun agenda-agenda baik jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek. Karakter manusia yang berbeda menyebabkan respon manusia yang berbeda menyikapi rutinitas ini. Sebagian orang ada yang menyukai rutinitas, sebagian lain tidak pernah bisa berdamai dengan kata ini. Saya sendiri melihat perbedaan ini hanya disebabkan daya tahan kita yang berbeda menghadapi rutinitas.</p>
<p>Sifat dasar manusia yang dinamis dan menyukai hal-hal baru menggiring manusia kepada titik jenuh saat menghadapi rutinitas, terkait dengan hipotesa daya tahan menghadapi rutinitas tadi, sebagian dari kita titik jenuh itu cepat hadir, sedang yang lainnya hadir lebih lama, sialnya apabila tidak ada tindak lanjut saat menghadapi titik jenuh itu, maka titik jenuh itu akan datang kembali dengan frekuensi yang semakin sering dan periode yang singkat. Saat kita tidak mampu melawan rutinitas itu maka kejenuhan-kejenuhan itu akan datang semakin menggila, menghambat kreatifitas, bahkan sanggup mengguncang psikologis kita yang mengalaminya. Terutama bagi kita yang memiliki daya tahan rendah terhadap rutinitas, rasa tersiksa itu dapat membunuh kemanusiaan kita secara perlahan.</p>
<p>Secara teoritis salah satu cara melawan rutinitas-rutinitas adalah dengan melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan (saya sendiri bingung bersepeda motor dengan kaki telanjang apakah masuk kategori kegiatan melawan rutinitas yang baik red.), memaknai rutinitas yang kita jalani dengan paradigma yang berbeda, atau melakukan aktivitas yang kita sukai, tentu saja kegiatan yang kita sukai pun apabila dilakukan berulang kali dengan cara yang sama juga dapat membuat kita muak. Diperlukan juga sebuah kemampuan memanajemen diri menghadapi rutinitas, menciptakan varian-varian aktivitas baru dalam hidup. Tanpa itu sepertinya kita akan menjelma menjadi robot yang sudah memiliki to do list yang sama setiap harinya, dan tidak pernah selesai.</p>
<p>Ironisnya adalah terkadang kita tidak mampu melawan rutinitas karena kita terikat dengan kebutuhan-kebutuhan atau kepentingan, namun menurut hemat saya selalu ada cara untuk melawan kejenuhan-kejenuhan akibat rutinitas itu, tentu saja dengan aktivitas yang sesuai dengan karakter kita masing-masing, sehingga idealnya adalah bukan kita yang terbunuh oleh rutinitas, tetapi kita yang membunuh kejenuhan dan memaknai ulang arus kehidupan kita.</p>
<p>Kembali ke pengalaman saya pagi ini, setelah menemukan semangat baru dan menikmati sensasi rasa dingin di kaki, juga rasa kasar saat menyentuh aspal yang basah, saya dikagetkan oleh motor yang menabrak saya dari belakang dengan cukup kencang di daerah Sawangan Parung, (mungkin disebabkan jalan yang licin karena diguyur hujan red.) saya sempat kehilangan keseimbangan namun berhasil menguasai motor dan tidak jatuh, sebaliknya motor dan pengendara yang menabrak saya jatuh mencium aspal dengan koefisien gesek yang lebih kecil karena licinnya jalan. Sayapun meminggirkan kendaraan saya dan membantu orang itu bangun serta meminggirkan motornya pula, sepertinya kaki dan tangan orang itu sedikit lecet-lecet demikian juga motornya, namun setelah saling bermaafan dan merasa tidak ada cedera yang cukup serius kami sama-sama melanjutkan perjalanan. Saya memaknai kejadian itu dengan rasa lega, bukan karena saya tidak jatuh dan tidak membayar ganti rugi, tetapi lebih karena saya berhasil keluar dari rutinitas pagi ini, saya kembali menikmati perjalanan sampai hanya sekitar beberapa ratus meter sebelum kantor saya melihat ada pengendara lain yang berboncengan (laki-laki perempuan red.) yang juga bertelanjang kaki, saya agak kecewa karena pagi ini bukan satu-satunya, saya melangkah masuk ke gedung tempat saya bekerja dengan celana jeans tergulung serta menenteng sepatu kets serta sapaan ramah seorang teman “woi orang gunung, tumben baru datang lo!!”, sambil terngiang lirik lagu RATM “Why stand on the silent platform, fight the world, fuck the norm!!” dan kemudian kembali ke rutinitas.</p></div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=51&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/02/04/rutinitas-membunuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-b.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v2216/117/54/1316979280/a1316979280_30315057_1033.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dunia Kesan</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/29/dunia-kesan/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/29/dunia-kesan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 04:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[imagination]]></category>
		<category><![CDATA[kesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[
Beberapa hari yang lalu memori saya berlari beberapa tahun ke belakang saat seorang teman men-tagged saya pada sebuah foto yang diuploadnya ke situs jaringan sosial yang sedang booming saat ini (baca facebook red.). Foto itu sendiri diambil akhir tahun 2001, saya lupa tepatnya bulan apa, namun yang saya ingat saat itu saya masih semester 7 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=39&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30304813&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=20344944989&amp;aid=-1&amp;oid=20344944989&amp;id=1316979280"><img class="alignleft" src="http://photos-f.pe.facebook.com/photos-pe-snc1/v2111/117/54/1316979280/a1316979280_30304813_9238.jpg" alt="" width="180" height="204" /></a>Beberapa hari yang lalu memori saya berlari beberapa tahun ke belakang saat seorang teman men-tagged saya pada sebuah foto yang diuploadnya ke situs jaringan sosial yang sedang booming saat ini (baca facebook red.). Foto itu sendiri diambil akhir tahun 2001, saya lupa tepatnya bulan apa, namun yang saya ingat saat itu saya masih semester 7 di fisika IPB, dan situasinya di sekitar bilangan blok m, kalau tidak salah sepulang manggung di salah satu kafe di daerah itu.</div>
</div>
<p>Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari foto itu adalah postur fisik tubuh saya yang terlihat sangat kurus, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi sekarang, hal ini bisa dimaklumi mengingat berat badan saya saat ini jika dibandingkan saat kuliah naik sekitar 10-15 kg. Sehingga kesan sederhana yang tertangkap adalah ‘saya tambah gemuk’.</p>
<p><span id="more-39"></span>Namun apakah memang sesederhana itu? Apakah memang saya ‘hanya’ bertambah gemuk? Jika ditilik secara ‘berat badan’ memang iya (istilah ‘berat’ badan yang dimaksud adalah ‘massa’ dalam ilmu fisika red.), tetapi jika dilihat dari fenomena mikroskopis tidaklah sesederhana itu. Dalam satu hari saja milyaran sel tubuh kita mati dari total sekitar puluhan sampai ratusan trilyun jumlah sel total dalam tubuh kita. Milyaran sel itu kemudian akan digantikan oleh sel-sel yang baru untuk menjaga keseimbangan tubuh kita. Sel-sel yang mati sebagian besar akan dikeluarkan dari tubuh kita melalui kulit maupun saluran pembuangan lainnya. Hebatnya proses ‘kematian’ milyaran sel dan penggantiannya itu lagi-lagi terjadi hanya dalam waktu ‘satu hari’!!!!</p>
<p>Sehingga dapat disimpulkan ‘tubuh’ saya yang ada di foto itu bukanlah ‘tubuh’ saya yang sekarang. Karena sel-sel penyusun tubuh saya saat ini pasti sudah jauh berbeda dengan sel-sel penyusun tubuh saya saat itu (kalau tidak bisa dikatakan berbeda ‘semuanya’ mengingat berapa hari dalam delapan tahun yang terlewat). Bisa saya pastikan tubuh saya saat SMA dan tubuh saya sekarang adalah dua benda fisik yang berbeda. Dan pastinya hal itu terjadi bukan hanya pada saya tetapi juga pada kita semua. Perubahan ini tidak hanya terjadi pada orang-orang yang ‘bertambah gemuk’ saja, tetapi juga pada manusia yang berat badannya cenderung stabil, sehingga dapat dikatakan setiap manusia ‘memakai’ tubuh barunya setiap hari.</p>
<p>Mengapa kita seolah-olah tidak merasakan proses diatas? Pertanyaan barusan dapat dijelaskan dengan definisi ‘merasakan’ itu sendiri. Kita ‘merasakan’ dunia fisik hanya dengan indera yang kita punya. Indera fisik yang kita kenal adalah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah untuk merasa dan kulit untuk meraba. Dalam pembahasan dunia diluar fisik atau metafisik banyak orang menyebut indera keenam atau ‘sixth sense’. Seluruh fenomena fisik yang kita amati masuk melalui jalur-jalur indera tersebut. Proses-proses yang terjadi diluar jangkauan indera kita tidak akan dapat dirasakan.</p>
<p>Permasalahannya kemudian adalah jangankan proses ‘diluar’ indera seperti contohnya kematian sel diatas, ternyata proses yang ‘terjangkau’ oleh indera sendiri, kesan yang ditangkap tidak ‘begitu adanya’ atau tidak demikian ‘sebenarnya’. Mengapa demikian?</p>
<p>Proses indera yang terjadi secara umum sama, baik penglihatan, pendengaran dll. Sel-sel indera terluar mengindera ‘kejadian’ atau ‘sesuatu’ kemudian meneruskan informasi melalui sel-sel syaraf untuk disampaikan ke sel-sel neuron dalam otak kita (yang disebut sel-sel kelabu oleh Hercule Poirot dalam novel-novel Agatha Christie red.) untuk diproses dan menyampaikan kembali informasi berbentuk respon balik. Karena kemampuan indera manusia yang terbatas maka kesan yang dihasilkan tidaklah ‘sebagaimana adanya’ tetapi ‘sebagai mana yang tertangkap’ oleh otak kita. Sebagai contoh mata kita hanya mampu menangkap cahaya tampak dari rentang panjang gelombang merah sampai ungu, diluar itu kita tidak sanggup melihatnya. Bandingkan dengan hewan yang memiliki jangkauan panjang gelombang berbeda seperti tikus, kucing, atau hewan malam lainnya. Mereka mampu menangkap spektrum diluar cahaya tampak sehingga ‘warna-warna’ mereka berbeda dengan ‘warna-warna’ kita. Demikian juga proses pendengaran, rentang frekuensi bunyi yang mampu kita tangkap hanya sekitar 20-20.000Hz bandingkan dengan kelelawar yang mampu menangkap bunyi dengan rentang dibawah yang kita punya sehingga tentu saja ‘bebunyian’ kelelawar atau hewan lainnya berbeda dengan ‘bebunyian’ kita. Hal yang sama juga terjadi pada indera lainnya, itulah mengapa anjing tipe tertentu lebih berbakat menjadi pelacak dibanding manusia karena inderanya yang tajam.</p>
<p>Selain keterbatasan detektor indera yang kita punya, ternyata kita sendiri tidak pernah ‘benar-benar’ bersentuhan dengan dunia ‘diluar’ kita. Mengapa begitu? Ketika kita merasa melihat sesuatu, sebenarnya itu adalah proses informasi yang ada di otak kita, saat kita merasa mendengar sesuatu, itu juga hanya proses informasi di otak saja, karena otak hanya memproses informasi yang disampaikan oleh sel-sel saraf, Lagi-lagi kita tidak pernah ‘benar-benar’ bersentuhan dengan dunia luar!!! Semua yang kita alami hanyalah ‘kesan’ atau ‘image’ yang terbentuk di otak kita. Kita tidak pernah menyentuh sesuatu, kita hanya merasa menyentuh lewat kesan yang ditangkap di otak, kita tidak pernah melihat sesuatu, kita hanya merasa melihat sesuatu lewat kesan yang ditangkap di otak. Dunia kesan manusia pasti sangat berbeda dengan dunia kesan hewan atau makhluk hidup lainnya. Bayangkan seseorang yg tidak memiliki indera penglihatan (buta red.) maka dunia yang dialami pasti berbeda dengan dunia kita. Sekarang bayangkan manusia masih hidup namun kehilangan semua indera nya, maka dunia manusia itu pasti akan sangat berbeda. Atau bayangkan seseorang bayi yang dari lahir kemudian otaknya diberi informasi artifisial (buatan red.) sejak lahir, maka sampai dewasa ia akan meyakini itulah ‘dunia’ yang sebenarnya. Untuk memudahkan pemahaman, ilustrasi di film Matrix dan The Truman Show barangkali dapat membantu.</p>
<p>Kenyataan yang terjadi adalah kita seringkali memaknai ‘kesan’ yang ditangkap indera itu sebagai sesuatu yang ‘sebenarnya’ terjadi. Manusia merasa memiliki ‘kebenaran’, padahal ‘kesan’ yang sampai pada kita hanya sanggup ‘mendekati kebenaran’ bahkan seringkali menipu. Contoh paling sederhana kesan menipu adalah, saat naik mobil di tol, kesan yg tertangkap adalah pepohonan diluar berlari ke arah belakang, padahal sesugguhnya tidak demikian (ini pelajaran SD red.) contoh lain adalah ‘kesan’ bahwa bumi diam padahal sesungguhnya tidak demikian. (kalau mau jujur kita hanya mendapat kesan bumi bergerak saat gempa bumi bukan?)</p>
<p>Kita kebanyakan tertipu oleh kesan-kesan yang terjadi, karena memang kita tidak pernah mengetahui apa yang terjadi ‘sesungguhnya’. Kita tidak pernah mengetahui ‘kebenaran’ yang terjadi sesungguhnya karena semua hanyalah kesan. Kesombongan manusia dalam sejarah contohnya adalah pembunuhan Galileo karena meyakini teori Nicolas Copernicus bahwa Bumi mengelilingi Matahari, sehingga dianggap sesat karena bertentangan dengan kesan sehar-hari matahari yang mengitari bumi. Coba kita bandingkan dengan pengetahuan sekarang? Bukankah alasan pembunuhan Galileo itu lucu sekaligus menyedihkan? Saat ini ilmuan fisika modern memahami bahwa gerakan partikel mikroskopis tidak memiliki sebab, dan hanya bergantung pada probabilitas, lagi-lagi itu mengguncang dunia yang ‘terlena’ oleh ‘kesan’ yang ditangkap manusia sehari-hari, bahwa segala sesuatu pasti mempunyai sebab. Waktu yang bersifat relatif juga bertentangan dengan ‘kesan’ kita bahwa jalannya waktu itu tetap untuk segala sesuatu.</p>
<p>Kita juga seringkali terjebak pada kesombongan bahwa kita memiliki pengetahuan tentang ‘sesuatu’ padahal otak kita seperti katak dalam tempurung yang hanya mengandalkan kerja sel-sel syaraf. Termasuk pengetahuan ini yang saya uraikan ini hanyalah kumpulan kesan. Banyak juga dari kita (termasuk saya red.) yang menderita karena takut akan kesan yang ditimbulkan, seperti takut terlihat bodoh, miskin, jelek dsb sehingga melupakan substansi sebenarnya dari kehidupan itu sendiri. Bagi saya kesadaran bahwa kita tidak mengetahui apa-apa, atau kesadaran bahwa dunia ini hanyalah kumpulan ’kesan’ yang sangat mungkin jauh berbeda dari yang ‘sebenarnya’ bisa menuntun kita pada kehidupan yang lebih arif dan bersahaja, kaya-miskin, bodoh-pintar, bukankah semua hanya kesan, tentu saja semua relatif, dan ternyata kita hanya bisa berpijak pada diri sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah apalagi yang bisa kita sombongkan?? Bahkan tubuh kita pun hanya sebuah ‘kesan’!!!!</p>
<p>“Cause it’s a great big white world<br />
And we are drained of our colours<br />
We used to love ourselves<br />
We used to love one another”<br />
(Brian Warner)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=39&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/29/dunia-kesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-f.pe.facebook.com/photos-pe-snc1/v2111/117/54/1316979280/a1316979280_30304813_9238.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Death &#8211; Between Tragedy and Statistic</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/21/death-between-tragedy-and-statistic/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/21/death-between-tragedy-and-statistic/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 07:23:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[death]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[statistic]]></category>
		<category><![CDATA[statistik]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>
		<category><![CDATA[tragedy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[“ The death of one is a tragedy… The death of millions is just a statistic… “ (Brian Warner)
Lagi-lagi saya mengutip lirik sebuah lagu, kali ini salah satu lagu dari musisi favorit saya Brian Warner a.k.a Marilyn Manson dalam lagunya yang berjudul The Fight Song. Saya tidak ingin membahas lagu tersebut karena bagi saya lagu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=35&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="size-medium wp-image-67 alignright" title="cfa427748e0f2a60" src="http://paradigmakeikhlasan.files.wordpress.com/2009/01/cfa427748e0f2a60.jpg?w=300&#038;h=300" alt="cfa427748e0f2a60" width="300" height="300" />“ The death of one is a tragedy… The death of millions is just a statistic… “ (Brian Warner)</p>
<p>Lagi-lagi saya mengutip lirik sebuah lagu, kali ini salah satu lagu dari musisi favorit saya Brian Warner a.k.a Marilyn Manson dalam lagunya yang berjudul The Fight Song. Saya tidak ingin membahas lagu tersebut karena bagi saya lagu adalah murni masalah selera, tetapi saya ingin membahas kutipan diatas.</p>
<p>Kutipan diatas belakangan ini terngiang dikepala saya, selain karena lagu itu masuk dalam playlist saya, sehingga selalu saya dengar saat perjalanan pulang pergi ke kantor (bogor – lebak bulus red.) tetapi juga lebih disebabkan oleh siaran berita baik di TV maupun di internet yang menyebutkan walaupun serangan Israel ke Palestina saat saya menulis notes ini memasuki tahap gencatan senjata, namun menurut berbagai sumber resmi korban meninggal sekurang-kurangnya mencapai 1400 jiwa.</p>
<p><span id="more-35"></span>Saya juga tidak akan membahas konflik yang usianya sudah lebih dari ribuan tahun ini, Jerusalem memang selalu menjadi perebutan tiga agama besar (Yahudi, Kristen dan Islam red.) Tiga agama yang sebenarnya bersaudara karena sama-sama berasal dari Abraham/Ibrahim. Karena pembahasan apalagi dari satu sudut pandang agama yang saya anut, menurut pandangan saya pribadi tidak akan menyelesaikan masalah. Bukan hanya karena saya tidak mempunyai daya untuk menghentikan konflik tersebut, tetapi karena menurut saya hal itu hanya akan melahirkan dendam turun-temurun dan akan melahirkan pembantaian-pembantaian berikutnya.</p>
<p>Saya tertarik untuk membahas kematian itu sendiri, baik kematian seseorang maupun kematian ribuan bahkan jutaan orang. Kematian seseorang, baik melalui cara yang wajar maupun tidak wajar benar-benar merupakan tragedi serta meninggalkan luka dan kenangan mendalam, terutama bagi orang-orang yang dicintai (mohon digaris bawahi kata-kata ‘orang yang dicintai’ red.)</p>
<p>Mari sama-sama berpikir, jangan-jangan rasa sedih itu hanya merupakan pelampiasan ego dimana kita merasa kehilangan dan tidak bisa berinteraksi dengan orang-orang yang kita cintai itu lagi, coba kita bayangkan, pernahkah kita merasa sedih yang berlebihan jika secara tidak sengaja dalam perjalanan kita melihat bendera kuning di pinggir jalan tanda orang meninggal? Paling-paling kita hanya akan menengok sebentar dan mengucapkan sesuatu menurut ajaran agama kita. Jika orang yang meninggal memiliki sedikit hubungan dengan teman atau kerabat kita, paling-paling kita hanya akan menyebut “kasian ya si anu dst”. Lain halnya jika yang meninggal itu orang-orang terdekat kita, rasa sedih itu tidak akan hilang dalam waktu cepat, butuh waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, sekali lagi bukan karena banyaknya kenangan bagi kita tetapi lebih disebabkan ego kita yang tidak memiliki orang itu lagi, bisa teman, sahabat, keluarga bahkan orang tua. Rasa sedih itu akan jauh lebih kuat jika kematian disebabkan melalui cara yang tidak wajar, bisa pembunuhan, kecelakaan, bencana alam atau yang lainnya. Lagi-lagi menurut saya bukan semata karena proses yang tidak wajar, tetapi lebih karena ego kita yang tidak siap menerima ‘kehilangan’ itu secara tiba-tiba atau mendadak. Untuk menguatkan kalo itu benar-benar ego dan bukan proses, coba kita lihat berita-berita kriminal ataupun kecelakaan di TV, paling-paling kita berkomentar “kok ada ya orang yang tega begitu” atau “manusia sekarang makin gila”, bayangkan jika itu menimpa orang-orang terdekat kita? mungkinkah kita hanya berkata demikian?</p>
<p>Uraian diatas bagi saya menegaskan bahwa kematian seseorang adalah tragedi, terutama bagi orang-orang terdekat yang mencintainya. Sekarang bagaimana dengan kematian massal?? Masihkah itu menjadi sebuah tragedi?? Mungkin iya, terutama apabila prosesnya adalah pembantaian, perang dsb. Tetapi mari kita runut, bukankah itu juga ‘ego’ kita?? apakah respon masyarakat Indonesia (yang notabene muslim red.) sama ketika terjadi penembakan ribuan bikhu yang sedang mendemo rezim di Myanmar? (tidak ada yang tau jumlah pasti bikhu yang meninggal karena jalur informasi ditutup rapat oleh rezim tsb red.).</p>
<p>Kembali ke agresi Israel ke Palestina, respon umat Islam bagi saya masih terkungkung ‘ego’ itu sendiri, ‘ego’ karena merasa bersaudara dsb. Pernahkah umat Islam merasakan hal sama terhadap pembantaian jutaan Yahudi oleh Hitler dalam “holocaust” pada awal PD II? Atau pernahkah kita merasa sedih di awal tahun 90-an ketika lebih dari sejuta orang suku tutsi dibantai oleh suku hutu di Rwanda hanya dalam waktu satu minggu!!! (ada yang menyebutkan ini adalah pembantaian tercepat dalam sejarah manusia).</p>
<p>Saya bukan seorang ahli sejarah, politik apalagi ahli agama, tetapi menurut saya saat merespon kematian orang dalam jumlah banyak kita harus melihat itu sebagai sebuah tragedi kemanusiaan juga, bagi saya tidak adil jika kita melihat Palestina sebagai sebuah tragedi, tetapi kita melihat pembantaian ratusan ribu orang simpatisan PKI oleh orde baru, ratusan ribu rakyat Tibet yang dibantai tentara RRC kita memandangnya sebelah mata, alias kita melihat peristiwa itu hanya sebagai deretan angka-angka atau statistik!!!! Bukankah kita selama ini tidak pernah ambil peduli akan hal itu? Apakah hanya karena berbeda keyakinan?? Mereka toh juga manusia, dan memiliki orang-orang yang dicintai!!! Karena kalau kita melihat pembantaian itu (selain palestina red.) hanya sebagai statistik apa bedanya kita dengan pemerintah AS dan PBB yang menerapkan standar ganda, melihat penyerbuan Kuwait oleh Irak dengan tergesa tetapi mengamini penyerbuan Israel.</p>
<p>Untuk lebih membantu pemahaman kita terhadap perang, terutama di Jerusalem dan sekitarnya, ada baiknya kita melihat film Kingdom of Heaven, bagi saya meskipun itu film Holywood tetapi film itu cukup baik menggambarkan bahwa dalam sejarah manusia seringkali kita tertipu, seringkali agama dijadikan propaganda dan alat bagi kekuasaan, dan membungkus perang ‘kepentingan’ yang kotor menjadi perang ‘agama’ yang suci.</p>
<p>Saya tidak pernah mendukung apalagi membenarkan tindakan Israel, bagi HAMAS teruslah melawan!!! Dan bagi teman-teman di Indonesia percuma saja kita mengutuk tetapi tidak melakukan apa-apa, apa bedanya kita sama PBB yang hanya bisa mengutuk?? Tetapi bagi saya ini bukanlah perang ‘agama’ Islam melawan Yahudi atau sebaliknya, ini adalah perang antara kaum marjinal yang tertindas melawan penguasa zalim yang selalu terjadi dalam sejarah umat manusia. Perang antara kaum proletar melawan jerat kapitalisme, sebagaimana perang antara Muhammad dan sahabat-sahabat miskin melawan konglemerat Quraisy, perang antara para mahasiswa angkatan 98 melawan rezim orde baru, perang antara Tjut Nyak Dien melawan kolonial Belanda, perang antara pejuang IRA di Irlandia melawan kerajaan Inggris dan selaksa perlawanan terhadap kesewenangan lainnya. Ini adalah perang ideologi dimana egalitarianisme manusia melawan perbudakan modern.</p>
<p>Sayangnya sebagian besar kita tidak sadar saat ini telah menjadi alat dan boneka mainan sebuah sistem, kita hanya bersedih kalau yang meninggal itu kerabat kita, kita hanya membantu kalau yang dibantai itu adalah orang yang seagama, kita menjelma menjadi bukan ‘manusia’ tetapi seonggok daging yang terkungkung ego. Ironisnya, perang akan selalu ada karena dunia ini butuh keseimbangan, tidak akan ada damai tanpa perang, dan mari jujur terhadap diri sendiri, bukankah ‘kematian’ adalah hal yang wajar? Masihkah kita takut menghadapinya? Terlepas dari tragedi atau hanya sekedar statistik, kita masih butuh tempat berpijak, dan pada kebenaran lah seharusnya kita berpegang teguh, bukan kepada ego. Pertanyaan terakhir, masih bisakah kita membedakan ‘kebenaran’ dan ‘ego’? Dan apakah kita termasuk dalam kritik Marilyn Manson diatas?(eph)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=35&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/21/death-between-tragedy-and-statistic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://paradigmakeikhlasan.files.wordpress.com/2009/01/cfa427748e0f2a60.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cfa427748e0f2a60</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saat Ginjal Tak Mampu Lagi Berbohong</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/13/saat-ginjal-tak-mampu-lagi-berbohong/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/13/saat-ginjal-tak-mampu-lagi-berbohong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 05:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[deteksi ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[kolimator]]></category>
		<category><![CDATA[renograf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[ 
Ginjal berperan penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam membuang sampah metabolisme dan racun dalam darah melalui urine. Tidak berfungsinya ginjal dapat berakibat serius, bahkan dapat berujung pada kematian. Pada umumnya manusia dapat bertahan hidup hanya dengan satu ginjal, namun ketika kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi seseorang harus melakukan hemodialisa (cuci darah), peritoneal dialisis (cuci [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=30&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="alignright size-full wp-image-74" title="renograf" src="http://paradigmakeikhlasan.files.wordpress.com/2009/01/renograf.jpg?w=300&#038;h=225" alt="renograf" width="300" height="225" />Ginjal berperan penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam membuang sampah metabolisme dan racun dalam<span> </span>darah melalui urine. Tidak berfungsinya ginjal dapat berakibat serius, bahkan dapat berujung pada kematian. Pada umumnya manusia dapat bertahan hidup hanya dengan satu ginjal, namun ketika kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi seseorang harus melakukan <em>hemodialisa </em>(cuci darah), <em>peritoneal dialisis</em> (cuci rongga perut), atau transplantasi ginjal. Di Amerika saja rata-rata sekitar 15.000 orang tiap tahunnya harus melakukan transplantasi ginjal untuk terus bertahan hidup.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dewasa ini jumlah penderita kerusakan fungsi ginjal meningkat terutama di kota-kota besar, disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, stress, kurang berolahraga, makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan yang lainnya. Selain itu kerusakan fungsi ginjal juga dapat disebabkan karena keturunan. Banyak penderita yang tidak menyadari kelainan fungsi ginjalnya sampai ketika ginjalnya benar-benar rusak, hal ini karena ginjal termasuk organ dalam yang prosesnya tidak kasat mata sehingga membutuhkan alat tertentu untuk mendeteksi fungsinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Memanfaatkan aplikasi iptek nuklir terutama teknik perunut radioisotop dan menyadari pentingnya pendeteksian fungsi ginjal, baik untuk diagnosis pasien maupun sekedar pemeriksaan rutin Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) membuat alat pendeteksi fungsi ginjal berbasis teknologi nuklir yang disebut Renograf.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span id="more-30"></span>Teknik renografi yang telah dikenal sejak tahun 1950-an ini memiliki prinsip kerja yang sederhana yaitu menangkap radiasi gamma dari radioisotop dosis rendah yang diinjeksikan ke tubuh pasien menggunakan detektor kolimator berbahan timbal, sehingga mampu dihasilkan kurva renogram yang akurat tentang fungsi ginjal kanan maupun kiri. Salah satu alas an dikembangkannya renograf adalah mahalnya<span> </span>deteksi menggunakan <em>gamma camera</em> jika hanya untuk <em>screening diagnostics</em> awal bagi pasien untuk tindakan medis selanjutnya. Selain itu dosis isotop yang<span> </span>digunakan renograf lebih rendah sehingga relatiF lebih aman. Sebagai perbandingan jika menggunakan radioisotop I-131 Hipuran dosis yang digunakan renograf hanya sebesar 50 μCi, sedangkan gamma camera 300 μCi, sementara jika menggunakan radioisotop Tc-99 DTPA dibutuhkan dosis 150 μCi, bandingkan dengan gamma camera yang mencapai 2000 μCi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurut Joko Sumanto salah seorang peneliti di PRPN BATAN secara umum metoda renograf adalah memonitor kedatangan, sekresi dan ekskresi radiofarmaka sesaat injeksi intravena. Output yang dihasilkan adalah grafik dengan tiga fase. Fase pertama adalah informasi kapasitas respon renovaskuler (penyerapan ginjal red.) yang ditunjukkan oleh kurva menanjak yang tajam dan berlangsung hanya sekitar 30 detik, fase kedua adalah informasi kapasitas uptake, konsentarasi dan sekresi jaringan <em>parenchim</em> ginjal, menunjukkan kinerja ginjal saat memproses sampah metabolisme, kurva menanjak lebih landai dan berlangsung sekitar 5 menit. Fase yang terakhir adalah informasi tentang kapasitas ekskresi atau eliminasi kedua ginjal (proses pengeluaran red.) yang ditunjukkan oleh kurva menurun dimulai dari puncak fase kedua sampai akhir pemeriksaan. Gambaran tadi adalah kurva untuk pasien dengan fungsi ginjal normal, sehingga apabila dihasilkan kurva yang berbeda dapat dengan mudah diketahui pada bagian mana ginjal tidak berfungsi dengan baik, “Sebagai contoh jika terjadi penyumbatan pada ginjal maka aktivitas ekskresi kecil sehingga kurva akan terus menanjak, contoh lain jika ginjal benar-benar tidak berfungsi dan tak mampu meyerap sisa metabolisme maka kurva akan cenderung datar dari awal” demikian Joko menambahkan. Sementara itu dr. Bagaswoto P, Sp.KN Kepala Bidang Radiologi RS dr. Sardjito menyatakan kinerja Renograf lewat kurva renogram yang dihasilkan tidak kalah untuk keakuratan data bila dibandingkan dengan <em>gamma camera</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah diinjeksi dengan radiofarmaka seorang pasien yang akan diperiksa fungsi ginjalnya duduk di kursi pemeriksaan yang telah di desain sedemikian rupa sehingga detektor yang terletak di belakang pasien dapat mendeteksi radiasi gamma yang dipancarkan. Detektor yang diberi tegangan sekitar 1000 Vdc oleh catu daya ini langsung terhubung ke modul elektronik yang akan memproses sinyal-sinyal menggunakan <em>Single Channel Analizer</em> (SCA), setelah itu sinyal diteruskan ke komputer via <em>Universal Serial Bus</em> (USB). Salah satu kelebihan renograf ini adalah sangat fleksibel karena menggunakan software berbasis sistem operasi Windows, software RenoXp untuk Windows Xp dan Reno Vista untuk Windows Vista sehingga renograf dapat dihubungkan ke komputer mana saja selama komputer tersebut menggunakan sistem operasi Windows, tentu saja setelah RenoXp atau Reno vista diinstall terlebih dahulu.</p>
<p><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dengan dosis yang rendah, renograf relatif aman sehingga dapat digunakan tidak hanya untuk penderita kelainan fungsi ginjal tetapi juga untuk diagnosa pasien sehat yang ingin mengetahui kondisi ginjalnya. Renograf juga dapat digunakan untuk monitoring ginjal setelah mendapatkan perawatan. Sampai saat ini renograf telah digunakan di banyak rumah sakit di Indonesia, misalnya RS dr Sardjito Yogyakarta telah menggunakan renograf sejak tahun 2004 untuk uji klinis. Banyak pasien yang mendapat manfaat renograf sehingga pihak RS Bethesda memandang perlu terus mengoperasikannya. BATAN sendiri terus melakukan sosialisasi renograf baik kepada masyarakat maupun dunia kedokteran, varian terakhir renograf yaitu Renograf IR3 telah diuji untuk <em>screening diagnostics</em> 94 orang pada acara Hakteknas dan menyambut Hari Ginjal sedunia di BPPT Jakarta tanggal 9-10 Agustus 2008 lalu. Dengan renograf dapat diketahui kelainan fungsi ginjal pada pasien yang diperiksa sehingga ginjal tidak mampu lagi berbohong. Renograf sendiri memperkaya khasanah kedokteran nuklir yang masih terus berkembang dan memiliki perspektif cerah di masa yang akan datang. (eph)</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=30&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/13/saat-ginjal-tak-mampu-lagi-berbohong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://paradigmakeikhlasan.files.wordpress.com/2009/01/renograf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">renograf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Minoritas!!!</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/08/menjadi-minoritas/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/08/menjadi-minoritas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 08:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/08/menjadi-minoritas/</guid>
		<description><![CDATA[



&#8220;I wanna be the minority
I don&#8217;t need your authority
Down with the moral majority
Cause I wanna be the minority&#8221;
(Billy Joe Amstrong)
Kutipan lirik lagu Green Day yang berjudul Minority diatas sudah saya dengar sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu, namun mungkin karena saya tidak terlalu fanatik dengan Green Day (hanya suka beberapa lagu saja, dan kebetulan lagu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=27&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30271155&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=18921594989&amp;aid=-1&amp;oid=18921594989&amp;id=1316979280"><img class="alignright" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/photos-ak-sf2p/v644/117/54/1316979280/a1316979280_30271155_7846.jpg" alt="" width="180" height="180" /></a></div>
</div>
<p>&#8220;I wanna be the minority<br />
I don&#8217;t need your authority<br />
Down with the moral majority<br />
Cause I wanna be the minority&#8221;<br />
(Billy Joe Amstrong)</p>
<p>Kutipan lirik lagu Green Day yang berjudul Minority diatas sudah saya dengar sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu, namun mungkin karena saya tidak terlalu fanatik dengan Green Day (hanya suka beberapa lagu saja, dan kebetulan lagu minority bukan salah satu favorit saya red.) sehingga lirik tersebut berlalu begitu saja dan tidak meninggalkan kesan apa-apa bagi saya.</p>
<p><span id="more-27"></span>Namun hal itu berubah drastis beberapa hari belakangan ini sejak saya tersadar dalam banyak hal saya termasuk golongan minoritas, dari mulai selera musik, keseharian, hingga paradigma pemikiran bahkan kepercayaan dan keyakinan dalam beragama saya adalah minoritas di tengah-tengah lingkungan kehidupan saya. Walaupun saya dilahirkan dan dibesarkan dari golongan mayoritas (baca orang kebanyakan red.) namun pilihan-pilihan dalam hidup baik berdasarkan rasionalitas maupun selera semata menuntun saya untuk menjadi golongan minoritas. Hal ini bukan hanya dikarenakan &#8216;ingin tampil beda&#8217; tetapi lebih disebabkan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang menggayut di benak saya saat berhadapan dengan fenomena mayoritas itu sendiri, walalupun dalam beberapa hal saya termasuk golongan mayoritas juga.</p>
<p>Sudah menjadi sifat dasar manusia yang cenderung bertahan di zona nyaman saat menjalani kehidupan, takut akan perubahan, malu jika berbeda dengan yang lain (yang terkadang konsekuensinya akan menjadi bahan gunjingan red.) yang akhirnya menuntun manusia itu sendiri menjadi sangat lembam dan cenderung statis. Hasil akhirnya adalah banyak manusia yang karena takut berbeda atau malas berubah menjadi stuck dan tidak berkembang, hanya mengikuti arus mayoritas serta tidak memiliki jati diri.</p>
<p>Permasalahannya kemudian adalah dalam sejarah manusia seringkali yang menjadi standar &#8216;kebenaran&#8217; adalah barisan mayoritas. Seringkali sebuah &#8216;kesalahan&#8217; berubah menjadi &#8216;kebenaran&#8217; hanya karena sebagian besar orang mengikutinya. Hal ini diperparah jika &#8216;kebenaran&#8217; itu dipaksakan oleh penguasa dengan segala kekuatan yang dimiliki. Catatan sejarah yang sampai pada kita sekarang ini sebagian besar bukanlah &#8216;kebenaran&#8217; sebagaimana data dan fakta yang terjadi, tetapi lebih merupakan sebagai catatan peristiwa milik penguasa yang tidak lagi bebas nilai.</p>
<p>Fenomena mayoritas dan minoritas di lapangan seringkali jauh lebih kejam dari yang dibayangkan. Para penguasa dengan dukungan mayoritas kerap kali memandang aneh, mengucilkan, mengkafirkan, bahkan sampai membantai golongan minoritas, apalagi jika sudah dilegitimasi oleh lembaga keagamaan.<br />
Padahal jika kita telaah lebih lanjut &#8216;berbeda&#8217; adalah fitrah manusia, karena manusia memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya (tidak ada dua &#8216;manusia&#8217; yang benar-benar sama baik dari segi fisik maupun mental spiritual red.) Pertanyaannya adalah mengapa jika perbedaan itu antara mayoritas dan minoritas seakan-akan mayoritas=benar dan minoritas=salah?</p>
<p>Menjadi minoritas, anti-mainstream atau apapun namanya jelas akan sangat menguras banyak energi karena minimal harus menjelaskan pilihannya kepada masyarakat banyak. Apalagi jika kaitannya dihadapkan pada penguasa/sistem kekuasaan/lembaga agama maka menjadi minoritas seringkali berarti perampasan hak bahkan bukan tidak mungkin berujung pada kematian. Tekanan yang dirasakan saat menjadi minoritas adalah harus menghargai, memahami dan mengerti golongan mayoritas, sementara di sisi lain juga harus siap untuk tidak dihargai, tidak dipahami dan tidak dimengerti oleh golongan mayoritas. Padahal idealnya toleransi harus dilaksanakan oleh berbagai pihak, bahkan seharusnya golongan mayoritas yang harus lebih memahami dan melindungi minoritas.</p>
<p>Sisi positifnya adalah seringkali para penganut minoritas ini menjadi pribadi-pribadi yang tangguh karena memiliki daya tahan yang tinggi, memiliki toleransi yang mendalam dan memiliki pemahaman yang tajam akan kepercayaan dan keyakinannya. Berbeda dengan golongan mayoritas yang egois, tidak toleran dan tidak teruji karena hanya terombang-ambing dan tidak memahami sepenuhnya apa yang dianut. Peradaban-peradaban besar terlahir dari sikap minoritas saat menentang dan melawan kekejaman pemaksaan mayoritas. Bukankah pandangan Muhammad, Jesus, Shiddarta, Konfusius, Lao Tze, Copernicus, Galileo hingga Albert Einstein dan semua tokoh-tokoh besar dunia lainnya adalah minoritas pada jamannya?</p>
<p>Kembali ke lirik lagu Green Day, saya menyeru kepada semua yang merasa minoritas, jangan pernah berhenti mencari kebenaran dan teguh pada pilihan sendiri, jangan menyerah hanya karena berbeda dari yang lain. Dan kepada golongan mayoritas jadilah elegan dengan tidak memaksakan kehendak kepada minoritas, karena merenunglah&#8230;. niscaya anda akan mendapati dalam beberapa hal anda juga termasuk minoritas. Semoga&#8230;&#8230;</p></div>
<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30271155&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=18921594989&amp;aid=-1&amp;oid=18921594989&amp;id=1316979280"><br />
</a></div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=27&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/08/menjadi-minoritas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-d.ak.fbcdn.net/photos-ak-sf2p/v644/117/54/1316979280/a1316979280_30271155_7846.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Melawan Penjara Budaya!!!</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/08/melawan-penjara-budaya/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/08/melawan-penjara-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 01:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/08/melawan-penjara-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[
Manusia &#8211;&#62; Makhluk Sosial &#8211;&#62; Bersosialisasi &#8211;&#62; Komunitas &#8211;&#62; Budaya
Budaya &#8211;&#62; Tata Nilai &#8211;&#62; Lembaga &#8211;&#62; Aturan2 &#8211;&#62; Mengikat &#8211;&#62; Penjara!!!
Hampir sebagian besar manusia mengalami proses diatas, dan tidak sedikit yang memperlakukan budaya/tata nilai atau bahkan agama menjadi Tuhan!!! Budaya ber-evolusi dengan dahsyat menjadi Tuhan, menjadi sesuatu yang harus ditaati dan tidak bisa dilawan, karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=25&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="note_content clearfix">
<div>Manusia &#8211;&gt; Makhluk Sosial &#8211;&gt; Bersosialisasi &#8211;&gt; Komunitas &#8211;&gt; Budaya</p>
<p>Budaya &#8211;&gt; Tata Nilai &#8211;&gt; Lembaga &#8211;&gt; Aturan2 &#8211;&gt; Mengikat &#8211;&gt; Penjara!!!</p>
<p>Hampir sebagian besar manusia mengalami proses diatas, dan tidak sedikit yang memperlakukan budaya/tata nilai atau bahkan agama menjadi Tuhan!!! Budaya ber-evolusi dengan dahsyat menjadi Tuhan, menjadi sesuatu yang harus ditaati dan tidak bisa dilawan, karena jika memaksakan diri untuk melawan maka akan &#8220;kualat&#8221;&#8230;..</p>
<p>Permasalahannya kemudian adalah dibutuhkan energi yang besar untuk melawan budaya yang melembaga tersebut, dan sebagian besar manusia pasrah dan ikut terjerat dalam penjara budaya yang saat ini hampir kehilangan makna dan substansi nilai-nilai, karena telah tereduksi menjadi sebatas aturan2 dan ritual2 yang menjemukan&#8230;..</p>
<p>Inilah seleksi alam, penjara budaya akan memisahkan para pejuang dari orang kebanyakan, penjara budaya akan memisahkan manusia2 cerdas dari manusia pemalas, penjara budaya akan menghasilkan syuhada-syuhada yang menjadi martir dari kekejaman penguasa&#8230;..</p>
<p>Dan sejarah telah mencatat, siapa Abraham, Moses, Socrates, Jesus, Siddharta, Muhammad, Galileo, Al Hallaj, Marx, Siti Jenar, hingga Tan Malaka&#8230;&#8230;</p>
<p>Sejarah juga akan mencatat siapa dan dimana posisi kita kemudian, apakah kita sanggup melawan penjara budaya dan menciptakan tatanan baru yang lebih baik, apakah itu di sejarah dunia, sejarah negara, sejarah lingkungan, sejarah keluarga, atau bahkan sejarah kita sendiri&#8230;&#8230;.</p></div>
<div class="photo photo_none">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30254629&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=18327159989&amp;aid=-1&amp;oid=18327159989&amp;id=1316979280"><img class="img_loading" src="http://photos-f.ll.facebook.com/photos-ll-snc1/v1755/117/54/1316979280/n1316979280_30254629_6947.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=25&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2009/01/08/melawan-penjara-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-f.ll.facebook.com/photos-ll-snc1/v1755/117/54/1316979280/n1316979280_30254629_6947.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia Goes to Open Sources</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/11/01/indonesia-goes-to-open-sources/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/11/01/indonesia-goes-to-open-sources/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 12:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini marak banget yang namanya razia sistem operasi dan software
original (terutama produk microsoft) baik di bandara, stasiun maupun
instansi-instansi. Hal ini disebabkan oleh adanya hak kekayaan
intelektual, yang turunannya adalah lisensi yang dikeluarkan oleh
microsoft.
Ditilik dari segi hukum penggunaan os/software bajakan adalah salah satu
pelanggaran hukum, karena termasuk pencurian hak cipta, di sisi lain
Indonesia dengan kondisi ekonomi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=22&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-medium wp-image-70" title="igos3" src="http://paradigmakeikhlasan.files.wordpress.com/2008/11/igos3.jpg?w=300&#038;h=215" alt="igos3" width="300" height="215" />Saat ini marak banget yang namanya razia sistem operasi dan software<br />
original (terutama produk microsoft) baik di bandara, stasiun maupun<br />
instansi-instansi. Hal ini disebabkan oleh adanya hak kekayaan<br />
intelektual, yang turunannya adalah lisensi yang dikeluarkan oleh<br />
microsoft.</p>
<p>Ditilik dari segi hukum penggunaan os/software bajakan adalah salah satu<br />
pelanggaran hukum, karena termasuk pencurian hak cipta, di sisi lain<br />
Indonesia dengan kondisi ekonomi yang carut-marut sangat tidak mungkin<br />
bagi para pengguna komputer di Indonesia kebanyakan untuk membeli software<br />
asli. Di kantor-kantor mungkin sudah ada beberapa yg menggunakan os<br />
original, baik yg oem maupun bukan, tetapi siapa yang berani menjamin<br />
bahwa seluruh software yg terinstal di dalamnya adalah original? baik<br />
software yg digunakan untuk bekerja seperti produk adobe, corel, maupun yg<br />
lain, apalagi game? Kalau saya boleh berlebihan maka hampir bisa<br />
dipastikan seluruh game yg terinstal di komputer manusia Indonesia adalah<br />
bajakan (selain game freeware tentu saja)</p>
<p>Apakah ini disebabkan oleh bangsa kita yg tidak menghargai hak cipta atau<br />
karena benar-benar melarat? (saya rasa jawaban yg kedua yg lebih masuk<br />
akal)</p>
<p><span id="more-22"></span>Mungkin cerita ini bisa dianalogikan seperti cerita Robin Hood (baca<br />
hackers dan crackers) yang mencuri dari Kaum Borjuis kerajaan (baca Bill<br />
Gates dkk) untuk disebarkan pada kaum marjinal. Dari sisi kemanusiaan<br />
mungkin saja ini adalah tindakan yang positif (terberkatilah para hackers<br />
dan crackers). Tetapi kalau ditinjau dari nilai-nilai kebenaran tetap saja<br />
ini adalah pencurian!!!!</p>
<p>Sebenarnya masih banyak cara untuk mengatasi hal ini, banyak sekali sistem<br />
operasi lain yg tidak kalah dengan windows, begitu juga dengan software2<br />
nya. Bagi para pengguna apple/mac mungkin sudah terbiasa dengan os.mac,<br />
selain itu para pengembang linux juga sudah menghasilkan varian sistem<br />
operasi yg sangat banyak dan tidak kalah dengan windows baik kinerjanya<br />
maupun kemudahannya</p>
<p>di Indonesia sendiri sudah banyak programmer yg mengembangkan linux dan<br />
software open source nya. Kementrian Riset dan Teknologi sendiri sudah<br />
meluncurkan IGOS Dwi Warna yg merupakan kelanjutan dari IGOS Nusantara,<br />
hal ini bertujuan selain melakukan penghematan (bayangkan kalau seluruh<br />
komputer di lingkungan KNRT dan lembaga penelitian pemerintah kalau semua<br />
menggunakan os original maka dibutuhkan dana 53 Trilyun!!!!) (bagaimana<br />
kalau seluruh Indonesia, habis harta kita hanya untuk Bill Gates!!!) juga<br />
membuktikan bahwa anak bangsa juga memiliki sebuah karya yang murah tapi<br />
tidak murahan.</p>
<p>IGOS Dwi Warna sendiri dalam paket instalasinya sudah dilengkapi software2<br />
open source yg meiliki padanan di windows, ada software perkantoran,<br />
grafis pixel, grafis vektor, programing web, 3D/flash, video/audio<br />
editing, player audio, video, sampai software untuk chat terinclude<br />
disana,<br />
masalah kinerja? jangan ditanya dengan RAM hanya 512 mega sanggup bekerja<br />
grafis lebih cepat dibanding vista gdn ram 2 giga, dan tentunya bebas<br />
virus!!!!</p>
<p>Permasalahannya kini hanya masalah kebiasaan, banyak yg menolak karena<br />
kesulitan adaptasi migrasi dari windows ke linux, tetapi menurut saya<br />
hanya dengan sedikit saja niat untuk belajar, maka dalam waktu cepat hal<br />
itu akan teratasi, apalagi kalau kebutuhan berkomputernya hanya untuk<br />
mengetik, presentasi, edit foto, nonton film(hayo film apa???), denger<br />
lagu dll (seperti penggunaan komputer mahasiswa/pekerja kebanyakan) maka<br />
semuanya sudah sangat mudah!!!! lagi-lagi permasalahannya hanya masalah<br />
niat, karena linux sekarang jauh lebih bersahabat dibanding 5 tahun lalu.</p>
<p>Notebook pribadi saya sendiri kini sudah bersih dari software bajakan,<br />
karena saya kini memakai Linux, padahal tadinya windowsnya original<br />
(OEM)selain karena saya anti kapitalis, tetapi juga ingin menghargai karya<br />
anak bangsa, dan percaya atau tidak, hanya butuh waktu 3 hari untuk proses<br />
adaptasi!!!!</p>
<p>Harapan saya kedepan adalah para programer open source juga membuat<br />
software game berkualitas setara Football Manager atau Age of Empire ;]<br />
HARI GINI MASIH PAKE BAJAKAN????!!!!!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=22&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/11/01/indonesia-goes-to-open-sources/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://paradigmakeikhlasan.files.wordpress.com/2008/11/igos3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">igos3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuhan dan Fisika</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/09/26/tuhan-dan-fisika/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/09/26/tuhan-dan-fisika/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 06:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/09/26/tuhan-dan-fisika/</guid>
		<description><![CDATA[Membaca postingan Rika Tiananda (Fisika 38) kehidupan saya seperti diputar
kembali ke delapan tahun lalu dimana saya sebagai seorang mahasiswa fisika
semester 4 bergelut dengan diri sendiri tentang pertanyaan-pertanyaan
besar tentang Tuhan. Sayangnya Rika tidak mencantumkan sumber postingan
tersebut sehingga apakah kisah tersebut benar-benar nyata atau
cerita-cerita pengkultusan individu hebat yang telah menghasilkan sesuatu
bagi peradaban manusia.

Jika ditelaah lebih jauh, Fisika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=21&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><pre>Membaca postingan Rika Tiananda (Fisika 38) kehidupan saya seperti diputar
kembali ke delapan tahun lalu dimana saya sebagai seorang mahasiswa fisika
semester 4 bergelut dengan diri sendiri tentang pertanyaan-pertanyaan
besar tentang Tuhan. Sayangnya Rika tidak mencantumkan sumber postingan
tersebut sehingga apakah kisah tersebut benar-benar nyata atau
cerita-cerita pengkultusan individu hebat yang telah menghasilkan sesuatu
bagi peradaban manusia.

Jika ditelaah lebih jauh, Fisika adalah anak sulung dari nenek moyang ilmu
pengetahuan modern yaitu Filsafat. Basis pengetahuan modern yang
berdasarkan empirisme dan logika merupakan cabang tertua dari filsafat.
Fisika merupakan derivasi dari filsafat Hellenisme yang mempertanyakan
segala sesuatu, dan mencoba menjawab segala sesuatu, alam fisik yang
diamati memunculkan teori-teori baru dari para filsuf pada masa itu dari
trilogi Socrates-Plato-Aristoteles (saya sebut trilogi karena merupakan
rangkaian guru-murid yang terkadang ajarannya lebih merupakan dialektika
dari masing-masing personal), dilengkapi dengan nama-nama lain yang tidak
kalah besar seperti Demokritus, Archimides, dll yang namanya sering kita
temukan di buku pelajaran fisika smu.

<span id="more-21"></span>Dahulu belum ada dikotomi atau pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan, karena
seorang sarjana dari akademia Plato misalnya bisa jadi seorang fisikawan,
matematikawan, ahli hukum, teolog, sosiolog, sekaligus sastrawan. Seiring
dengan semakin kompleks dan detailnya pengetahuan maka terjadi klasifikasi
bidang-bidang pengetahuan.

Namun fisika sebagai anak sulung tentu tidak pernah bisa jauh dari
leluhurnya, pertanyaan-pertanyan tentang sifat-sifat fisis dalam level
tertentu seringkali bersinggungan dengan pemaknaan akan kehidupan itu
sendiri. Seorang fisikawan biasanya akan memiliki paradigma sendiri dalam
memandang kehidupan termasuk didalamnya substansi tertinggi kehidupan
seperti entitas KeTuhanan.

Dalam perjalanan sejarah dapat kita ketahui bahwa seringkali fisikawan
adalah person yang sangat religius, pemaknaan keber-agama-an didasari
pengetahuan akan fenomena fisis alam, seperti Galileo yang merupakan
seorang katolik yang taat (walaupun di cap sesat oleh gereja saat itu),
Newton yang tercatat sebagai salah seorang Knight Templar, teologinya
tentang Tuhan yang menciptakan mesin semesta yang sangat besar dengan
hukum-hukumnya saat ini baik sadar ataupun tidak sadar masih diadopsi oleh
aliran mainstream agama-agama besar di dunia. Tulisan-tulisan Blaise
Pascal tentang notasi-notasi Bible dan trinitas selama berabad-abad juga
berpengaruh besar di gereja. Sampai statement Einstein yang paling
terkenal "Tuhan tidak bermain dadu!!" saat menyangkal Werner Heisenberg
dkk menunjukkan seberapa dekat para fisikawan dengan kehidupan religius
mereka.

Berbagai teori baru fisika yang revolusioner seperti teori kuantum dan
relativitas sampai singularitasnya Stephen Hawking mengguncang pemaknaan
akan semesta dikemudian hari, alamnya Newton belakangan terlihat terlalu
"kaku", pergeseran paradigma ini juga berimbas terhadap pemaknaan tentang
KeTuhanan. Beberapa fisikawan kemudian memilih untuk menjadi atheis
ataupun agnostik, beberapa yang lain memaknai dunia spiritual dengan cara
yang berbeda. Sebagian besar fisikawan masih bimbang sehingga memberi
porsi berbeda antara kehidupan 'fisikanya' dengan kehidupan
'religius'nya,sehingga cenderung menjadi sekuler. Banyak juga fisikawan
yang mencoba memparalelkan pemahaman fisikanya dengan keyakinannya
sehingga memperkuat keimanannya. Sayangnya berbagai diskusi yang membahas
tentang fisika dan KeTuhanan berhenti sampai pada tahap analogi-analogi
(atau memang tak mampu melangkah lebih jauh?) sehingga segalanya
seakan-akan berpulang ke masing-masing person (dan itu adalah jawaban yang
sangat apologetik).

Saya sendiri berada dalam pergulatan pemikiran yang cukup lama tentang hal
ini, beberapa diskusi fisika dan teologis semakin menguatkan paradigma
saya akan sebuah kebenaran. Tentu saja kebenaran ini adalah kebenaran
milik saya pribadi sehingga sangat2 relatif, karena pada dasarnya persepsi
manusia tentang Tuhan akan berbeda untuk masing-masing manusia, karena
menurut saya Tuhan Yang Maha Segalanya akan memiliki 'wajah-wajah' yang
tak terhingga banyaknya yang sesuai dengan pikiran masing-masing manusia.
Lagi-lagi saya sebut ini 'kebenaran relatif' karena 'kebenaran mutlak'
tidak lain adalah Tuhan itu sendiri. Kajian tentang Grand Unified Theory
yang belum selesai, fenomena partikel-partikel sekelas quark yang jenisnya
sangat banyak serta masih diperdebatkan apakah pantas disebut partikel
karena sifatnya tidak rigid seperti batu bata penyusun bangunan rumah yang
saling terpisah, tetapi lebih seperti jaring-jaring penyusun kehdupan yang
saling berhubungan menuntun saya kepada pemahaman integral holistik
tentang Tuhan, bayang-bayang Tuhan Personal (berada di Langit, mengawasi
saya, jauh dan tak terjangkau oleh saya) yang saya yakini dari kecil
semakin memudar dan tergantikan oleh Tuhan yang sangat dekat, karena
berkuasa atas quark dalam sel-sel tubuh saya, berkuasa atas pergerakan
elektron di tubuh saya yang tak pernah bisa diprediksi tepat, sekaligus
berkuasa di setiap ruang maupun nir-ruang di semua sudut semesta ini,
meliputi materi dan anti materi dan semua yang pernah ada, sehingga
kemudian saya mendapati begitu kecilnya diri saya ini, bahkan bisa
dianggap tidak ada!!!! tetapi jiwa dan raga yang kecil ini masih bisa
'merdeka' dan 'berkehendak' atas kebaikan Penguasa Absolut tadi, dan Tuhan
serta merta menjadi sangat Agung bagi saya (melebihi persepsi akan Maha
Agung pada saat SD) Pertentangan antara Deterministik dan Kehendak Bebas
menjadi sangat lucu bagi saya, karena bagi saya di setiap jiwa manusia ada
'entitas' keTuhanan yang walaupun sangat kecil dan hampir bisa diabaikan,
tetapi akan tetap ada!!! Dengan modal itulah manusia akan berpijak dan
menentukan arah hidupnya, menjadi baik atau buruk. Saat ini saya bukan
seorang fisikawan ataupun agamawan, karena bagi saya tidak ada perbedaan
yang jelas antara ilmu fisika dan ilmu agama (keduanya adalah ilmu Tuhan
sekaligus ilmu Manusia) karena dengan hati yang bersih apapun ilmu yang
engkau pelajari akan membawamu kepada Sang pemilik Jiwa. Sehingga diskusi
Einstein dan Profesornya seperti dalam postingan Rika Tiananda sebenarnya
'hampa makna', pemaknaan ada didalam hati masing-masing pembaca, dan
pemahaman saya saat ini berbeda, tidak seperti Professor, tidak juga
Einstein, mengapa? sederhana saja, saya bukan Einstein ataupun Professor
itu.</pre>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=21&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/09/26/tuhan-dan-fisika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan adalah Cinta</title>
		<link>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/09/11/9/</link>
		<comments>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/09/11/9/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 04:02:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paradigmakeikhlasan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Siklus Ramadhan kembali datang, bulan yang bagi umat Islam diyakini sebagai bulan penuh rahmah, berkah dan maghfirah ini mengunjungi umat Islam setahun sekali menurut kalender qamariah (kalender bulanan red). Bulan yang istimewa karena didalamnya terdapat kewajiban shaum atau berpuasa sehari penuh selama satu bulan, dengan meningkatkan amalan-amalan lainnya karena pintu pahala sedang dibuka seluas-luasnya dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=9&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Siklus Ramadhan kembali datang, bulan yang bagi umat Islam diyakini sebagai bulan penuh rahmah, berkah dan maghfirah ini mengunjungi umat Islam setahun sekali menurut kalender qamariah (kalender bulanan red). Bulan yang istimewa karena didalamnya terdapat kewajiban shaum atau berpuasa sehari penuh selama satu bulan, dengan meningkatkan amalan-amalan lainnya karena pintu pahala sedang dibuka seluas-luasnya dan setan-setan sedang dibelenggu, tetapi benarkah demikian adanya???</p>
<p>Mari kita lihat dari beberapa sisi, dari sisi fiqh shaum di bulan ramadhan adalah sebuah kewajiban yang mutlak dan harus dilaksanakan tanpa terkecuali bagi muslim yang sudah baligh, dengan menahan lapar dan dahaga serta berhubungan seks di siang hari diharapkan mampu untuk menahan serta melakukan manajemen &#8216;hawa nafsu&#8217; sehingga menjadi pribadi yang fitrah saat usai ramadhan, tetapi lagi-lagi benarkah ramadhan mampu mencapai tujuannya???</p>
<p><span id="more-9"></span>Saat ini ramadhan seakan telah hilang semangatnya, pemaknaan bulan suci mengalami penyempitan hanya sebatas ritual yang miskin substansi, alih-alih menahan nafsu, ramadhan hanya jadi semacam ajang penghamburan uang dan peningkatan konsumerisme masyarakat, setelah menahan lapar seharian masyarakat ramai2 mencari makanan yang spesial (tidak biasa dimakan sehari-hari) pada saat buka, restoran2 penuh untuk acara buka bersama, even dirumah2 pun tersedia makanan &#8216;mewah&#8217; sesuai standar ekonomi masing-masing&#8230;&#8230; pertanyaannya; dimana esensi yg menyatakan empati bagi kaum dhuafa yg setiap hari kelaparan? dimana nilai-nilai ramadhan, puasa direduksi hanya menjadi lapar dan haus, zakat direduksi hanya menjadi beras 3,5 liter, dan ramai2 berharap surga????</p>
<p>Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh <strong>pemaknaan agama hanya sebatas ritual</strong> seperti istilah rukun iman atau rukun islam, agama Islam hanya sebatas shalat, puasa, zakat dan haji. Ironisnya shalat hanya gerakan, puasa hanya lapar, zakat hanya setahun sekali dan haji hanya perjalanannya saja, sehingga muncullah badut-badut bersorban pada bulan ramadhan ini, belum lagi sederet artis yang mendadak jadi &#8216;religius&#8217;, termasuk mengeluarkan album religi, padahal sesungguhnya tidak lebih dari &#8216;tuntutan pasar&#8217;. Sehingga orang akan dikatakan beriman jika sudah melakukan hal-hal diatas. Akibatnya tidak ada output yang signifikan pasca ramadhan, semua kembali seperti sediakala, dan kondisi umat semakin terpuruk karena ulahnya sendiri</p>
<p>Idealnya ramadhan tidak hanya dimaknai dari sisi ritualnya saja, tetapi juga dari substansinya, <strong>ramadhan adalah perang terhadap konsumerisme</strong>, ramadhan adalah paradigma keikhlasan, dimana manusia harus peduli terhadap sesama, apalah artinya memaknai sebuah kesederhanaan apabila nanti berfoya-foya pada saat buka atau lebaran??? ramadhan adalah sebuah latihan bagi manusia untuk lebih menghargai hidupnya, lebih menghargai sesama, lebih banyak merenung, merefleksikan diri atas apa saja yang telah diperbuat, ramadhan adalah pintu, adalah nafas, adalah cinta itu sendiri. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menghadirkan Allah di dalam diri, bukan di luar sana, sehingga tidak akan ada lagi kejadian sandal/sepatu hilang setelah tarawih, apalagi pembunuhan anak bangsa melalui korupsi, yang ada hanya penghormatan terhadap sesama, karena nafasmu adalah nafasNYA&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paradigmakeikhlasan.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paradigmakeikhlasan.wordpress.com&blog=3475678&post=9&subd=paradigmakeikhlasan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paradigmakeikhlasan.wordpress.com/2008/09/11/9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3868a90fb8583eb007f5c959f36e20fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">paradigmakeikhlasan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>